Minggu, 22 Februari 2015

Curug Nangga 7 Tingkat



Pagi tanggal 19 Februari 2015 mengawali kegiatan Patrapala RU IV di awal tahun ini dengan tracking ke Curung Nangga.

Berangkat dari Homebase Maesa pukul 08.15 wib menuju lokasi dengan jumlah peserta sekitar 32 orang menggunakan sarana kendaraan roda 2 dan 4 lebih tepatnya Touring bro..

Di perjalanan, bergabung 2 rekan Patrapala dari kelompok Blispala sebagai guide diperjalanan, perlu diketahui Curug Nangga ini tersembunyi diantara perbukitan yang masuk dalam punggungan kaki Gunung Slamet, Memasuki punggungan bukit sebelum memasuki desa terakhir, rombongan kami di hadang trek menanjak dengan kemiringan  45-50⁰, kami dibuat ketar ketir dengan kemiringan itu, apakah kendaraan kami kuat untuk menanjak tanjakan ekstrim yang cukup panjang itu.
Alhamdulillah, rombongan kami berhasil naik semua dan sampai didesa terpencil itu dengan selamat sekitar pukul 10.15 wib.

Desa Terdekat dengan Curug Nangga

Tidak ada tanda petunjuk arah atau pun  tanda wisata ke Curug ini, menurut keterangan warga sekitar Curug,  Air Terjun ini sengaja disembunyikan oleh warga setempat  atau lebih tepatnya warga tidak ingin Curug ini di ketahui Investor ataupun pihak-pihak yang hanya ingin mengeruk kekayaan alam desa ini, karena mereka takut keseimbangan dan ketentraman desa mereka akan terganggu oleh hiruk pikuk pembangunan maupun kerusakan yang ditimbulkan akibat adanya project sarana dan prasarana untuk mengakses menuju Curug dimaksud, masyarakat setempat lebih senang dengan pengelolaan daerah mereka oleh mereka sendiri tanpa campur tangan pihak lain.

Beruntung Patrapala di ijinkan untuk melihat keindahan Curug yang disembunyikan ini, dengan catatan jangan menyebarkan ke pihak-pihak yang sekirannya dapat mengganggu ketentraman desa ini (Investor).
Disambut Kepala Dusun setempat, Tim Patrapala sempat berbincang sebentar sekedar beramah tamah dan menceritakan maksud dan tujuan Patrapala datang ke desa tersebut sekaligus menitipkan sementara kendaraan kami.

Setelah rehat sejenak Tim Patrapala langsung berjalan menjauh dari Desa menuju Air Turjun dengan menuruni punggungan bukit, kebun dan sawah terasering dengan kemiringan lebih dari 45
Jalan Desa
Kebun & Semak

Terasering

berjalan sekitar 30 menit dari desa, kami tiba di sungai kecil, sungai ini berkedalaman ± 30 cm  yang nantinya akan bertemu dengan sungai dari Curug Nangga,
Menyebrangi Sungai
karena tujuan kami adalah Curug Nangga maka kami teruskan perjalanan mengebrangi sungai dan  mengitari bukit dengan tanjakan mendominasi.
Tanjakan mendominasi

Mengelilingi bukit
Pukul 11.00 wib kami tiba di atas Curug Nangga (tingkat ke 7), sungguh pemandangan indah yang terpampang di sana, perbukitan dan sawah terasering yang hijau membentang. Sambil beristirahat, kami saling bernarsis ria sambil mengagumi lukisan alam ini.
Tingkat 7 Narsis
Tingkat 7 Narsis banget
Tak membuang waktu lama, kami segera menginstal peralatan repling untuk menuruni Curug ini.
Perlu diketahui Curug Nangga ini berketinggian sekitar ± 78 meter yang terbagi lagi menjadi 7 tingkat, dengan ketinggian berfariasi dari 3 meter sampai 20 meter, oleh karena struktur Curug ini yang bertingkat maka oleh warga diberi julukan dengan Curug Nangga (tangga).
Persiapan Repling
Setelah peralatan SRT (single roof technic) terinstal, satu persatu Tim Patrapala menuruni Curug ini, berdebar pastinya melihat ketinggian Curug ini, tapi kapan lagi kami bisa main repling ditempat indah ini?
Repling 01

Repling 02

Repling 03

Repling 04

Repling 05
Baru sebagian Tim Patrapala yang turun ke tingkat ke 6, hujan mengguyur kami dengan derasnnya, sebagian Tim yang membawa Jas Hujan segera mengenakannya, sementara yang tidak membawa harus rela berbasah-basahan dan menggigil karena angin juga berhembus cukup kencang. Kuatir ada banjir bandang dari atas maka kami putuskan untuk menyudahi repling ini. Saya yang belum kebagian turun ikut membantu membongkar Instalasi  repling ini.
Tiba-tiba hujan
Sambil menunggu hujan reda kami berdiskusi untuk menuruni Curug Nangga ini tanpa bantuan alat SRT (single roof technic) alias menuruni Curug dengan berjalan kaki melewati tepian sungai, lingkungan basah dan lumpur licin membuat kami harus jatuh bangun menuruninya, hujan mulai mereda setelah kami berhasil turun semua pada tingkat ke 6.
Turun 01
Turun 02

Turun 03

Narsis

Berlahan tapi pasti kami terus menuju tingkat berikutnya, celana kotor berlumpur adalah menu wajib dalam perjalanan kali ini, malah ada celana beberapa teman yang robek tersangkut akar pepohonan maupun tergores batu tajam ditepian sungai. Sungguh peristiwa yang mengesankan dalam perjalanan turun ini.

Istirahat Siang

Sesampainya kami di dasar Curug kami beristirahat sambil membuka bekal masing-masing, setelah perut terisi sedikit makanan dan minuman, kami segera bersibuk diri dengan mengambil gambar pemandangan yang menakjubkan ini dan beberapa teman ada yang bermain body rafting mengikuti alur air sungai. 
Body Rafting 01

Body Rafting 02
Dasar Curug ini ternyata sebuat pertigaan dimana 2 sungai menjadi satu, sisi depan adalah sungai dari Curug Nangga dan sisi kanan kami adalah sungai  yang dari awal sudah kami sebrangi sebelumnya. Dari lokasi ini, pemandangan yang kami dapat sungguh luar biasa indahnya, tak terlukis dengan kata-kata, bagaikan nirwana yang terselip didunia nyata. 
Narsis berdua
Keindahan Curug Nangga
Waktu menunjukan pukul 15.00 wib, walaupun masih belum puas menikmati pesona alam ini, sudah saatnya kami harus kembali ke tempat parkir, dengan berjalan beriringan kami menaiki bukit yang dihiasi oleh sawah terasering, cukup melelahkan menaiki bukit ini tanpa “bonus” (jalan datar).
Pukul 16.00 wib kami tiba ditempat parkir, segera kami membersihkan diri dan berpamitan pulang kepada Kepala Dusun setempat, dipertengahan jalan kami menyempatkan untuk mengisi perut yang lapar, setelah makan kami kembali melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing dengan menerobos lebatnya hujan.

by Mamas Adhi

Selasa, 25 November 2014

Welcome to Pertamina One - TNGGP 08-09 November 2014

Rencana awal dari Pendakian Gunung Gede Pangrango kali ini adalah mengikuti Tribute to Bu Karen pada tanggal 17-19 Oktober 2014 lalu sekaligus pendakian gabungan antar unit Pertamina , tapi berhubung pada tanggal tersebut RU IV Cilacap masih sibuk dengan kegiatan Turn Around 2014, maka kami putuskan untuk mengganti hari pendakian setelah kegiatan TA 2014 berakhir.

Karena Tema "Perpisahan & Penghargaan" untuk  Dirut Pertamina lama sudah dilakukan oleh Tim Patrapala Pusat dan Chapter Patrapala antar unit, maka kali ini Tim Chapter Patrapala RU IV Cilacap mengganti tema dengan  "Welcome to Pertamina One".

Akhirnya pada hari Jum'at sore pukul 19.00 wib (07/11/14) berangkat 46 orang menuju TNGGP Cibodas Bogor.
Tak banyak yang bisa diunkap dengan barisan kalimat dalam cerita ekspedisi kali ini, intinya Patrapala Chapter RU IV Cilacap berhasil menerobos rimba TNGGP ini dengan bebagai cuaca yang silih berganti, seolah ingin membuat "lumpuh" fisik dan mental kami, biarlah gambar-gambar ini yang akan bercerita banyak tentang ekspedisi kami.













Salam Patrapala

by Mamas Adhi

Jumat, 21 November 2014

Tribute to Bu Karen - Gede Pangrango 17-19 Oktober 2014

Pendakian bersama Pertamina Pecinta Alam (Patrapala) dalam rangka Tribute to Bu Karen telah berhasil dilaksanakan pada tanggal 17-19 Oktober 2014 lalu dengan jumlah peserta 60 orang yang terdiri dari perwakilan pecinta alam dari RU V Balikpapan, RU II Dumai, RU VI Balongan, Pertamina EP, PEPC, PHE, dan Kantor Pusat. Sebagai koordinator tentunya saya sangat bangga dan bersyukur atas keberhasilan expedisi ini dimana semua peserta dapat menuntaskan seluruh rute pendakian mulai dari Cibodas hingga Gunung Putri dengan selamat. Juga selama di Surya Kencana, seluruh Tenda Tim bisa berkumpul dalam satu lokasi sehingga rangkaian acara Ceremonial Tribute to Bu Karen yang telah dipersiapkan bisa dijalankan sesuai rencana.


Sebagai event yang pertama kali diadakan, walaupun saya telah memiliki beberapa pengalaman dalam memimpin pendakian masal sebelumnya, namun pendakian kali ini yang melibatkan banyak peserta dari berbagai Unit Operasi dan Anak Perusahaan cukup menyita waktu dan perhatian di sela-sela tugas kantor saya sehari-hari. Bagaimanapun bagi saya event ini seakan menjadi taruhan bagi sukses tidaknya eksistensi organisasi Pertamina Pecinta Alam (Patrapala) untuk level Kantor Pusat dan Pertamina secara korporat.

Sebagai salah satu pendiri Patrapala di RU IV Cilacap pada tahun 2007, maka kepindahan tugas saya ke kantor pusat pada tahun 2010 lalu telah banyak membatasi keikutsertaan saya dalam event-event yang diadakan oleh Patrapala Cilacap. Seiring kemajuan yang dicapai organisasi ini dimana Patrapala mulai didirikan di unit-unit operasi lainnya, maka dorongan agar saya membentuk organisasi induk Patrapala di tingkat pusat semakin menguat. Di sisi lain, lingkungan kerja di kantor pusat yang sulit untuk mengumpulkan orang-orang menjadi kendala tersendiri.

Dimulai dari segelintir nama-nama mereka-mereka yang punya perhatian terhadap kegiatan pecinta alam, umumnya kalangan pekerja muda, maka dimulaikan proses bincang-bincang tentang rencana pembentukan organisasi Patrapala Kantor Pusat. Ada kesepakatan untuk mengawali program kerja dalam bentuk pendakian perdana ke Gunung Gede, dengan asumsi target tidak terlalu berbahaya, pada tanggal 26-28 September 2014. Jadwal ini memang terbilang ketat mengingat sebagian yang hadir telah memiliki program masing-masing yaitu sebagian akan ke Merbabu dan sebagian lagi ke Kerinci pada 1-2 minggu sebelumnya. Akhirnya rencana pendakian bersama diundur menjadi tanggal 17-19 Oktober 2014, sekaligus mempersembahkan pendakian ini kepada mantan Direktur Utama Ibu Karen Agustiawan yang berhasil memajukan perusahaan selama 6 tahun terakhir. Beberapa hari menjelang pendakian, saya baru mengetahui dari internet ternyata tanggal 19 Oktober tersebut adalah bertepatan dengan hari ulang tahun beliau. Kegiatan pendakian Tribute to Bu Karen terasa menjadi lebih bernilai.

Broadcast tentang kegiatan ini di media internal mendapat respon luar biasa, banyak sekali email yang masuk dari pekerja Pertamina dan Anak Perusahaan di seluruh Indonesia untuk menanyakan persyaratan-persyaratan mengikuti kegiatan dimaksud.

Batasan kuota pendakian ke Gede menjadi masalah tersendiri. Saya harus mengkoordinasikan siapa-siapa saja yang akan ikut dan mendaftarkan ke Simaksi TNGP. Sebanyak 75 orang telah didaftarkan namun akhirnya hanya 60 orang saja yang dapat mengikuti pendakian bersama ini, sisanya mundur karena kesibukan dan alasan lain.

Koordinasi antar tim dilakukan melalui email. cukup efektif. Tim bertemu langsung di meeting point parkiran TNGP Cibodas pada hari jum’at malam sekitar jam 22.00 WIB

Pendakian dimulai pada jam 07.30 dengan target langsung padang Surya Kencana. Ini mengingat ku pada pendakian sebelumnya di tahun 2009. Kenapa tidak memilih camp di Kandang Badak? Karena kami membutuhkan tempat berkumpul yang cukup luas.

Syukurlah hujan relative tidak mengguyur selama pendakian. Kandang badak bisa dicapai sebelum jam 15.00. sempat ada keraguan tentang kondisi fisik Tim, namun karena tekad kuat untuk menuntaskan hingga surya kencana, maka ekspedisi terus dilanjutkan.

Angin berhembus cukup kencang ketika saya memasuki jalur bibir kawah yang ditandai oleh pilar-pilar pembatas berjajar rapi di sisi kiri. Waktu telah melewati maghrib. Pandangan di depan cukup gelap. Harus menggunakan headlamp. Saya baru dapat mencapai puncak sekitar jam 19.30 WIB. Suasana yang sama dengan pendakian saya terdahulu. Untuk yang kedua kalinya saya tidak dapat melihat secara langsung bentuk kawah Gn. Gede. Tim lainnya ada yang sudah duluan sampai, mungkin ada yang sudah tidur di tenda masing-masing, sebagian ada juga yang masih jauh di belakang. Akhirnya saya beserta sebagian kecil rombongan dapat mencapai lokasi tenda sekitar jam 21.30 WIB. Rombongan terakhir yang dari RU II tiba sekitar jam 2 pagi, bahkan karena kelelahan yang sangat maka salah seorang dari mereka ada yang bertahan istirahat di puncak gede, dan baru jam 4 pagi dapat bergabung kembali di padang Surya Kencana.

Minggu pagi, tanggal 19 Oktober 2014, udara masih cukup dingin. Kabut tipis sesekali melintas. aktifitas pagi sebagian ada yang belum beranjak dari tidurnya, sebagai terlihat sibuk selfie atau memotret panorama padang edelweiss, sebagian lagi ada yang sibuk memasak. Salut untuk Tim RU VI balongan yang membawa perbekalan masak-memasak cukup lengkap, ada telor, naget, sayur, minyak goreng, dan beras tentunya.

Jam 08.00 acara ceremonial Tribute to Bu Karen dimulai dengan menyanyikan lagu pramuka apa guna keluh kesah yang syair nya sedikit dirubah di pimpin pak Deni Satria dari RU II, kemudian menyanyikan lagu Pertamina Baru oleh Andromedo dari RU VI Balongan, selanjutnya saya menjelaskan tentang sejarah dan tujuan organisasi Patrapala, dilanjutkan penjelaskan tata nilai 6C dan point-point penting dari penjelasan bu Karen di hari terakhir menjabat, oleh Bu Sandra antara lain: pentingnya confidence sebagai salah satu tata nilai 6C, Disiplin – konsisten dengan apa yang diyakini, Never Give Up, Humanis, dan Keluarga itu penting. Acara diakhiri dengan testimony yaitu:

Dari Padang Rumput Suryakencana – Taman Nasional Gede-Pangrango

Kami Patrapala-Pertamina Pecinta Alam mengucapkan:

• Terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan Bu Karen Agustiawan dalam memimpin PT. Pertamina (persero), dan

• Selamat ulang tahun, semoga Ibu senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan lahir dan bathin.

Pertamina… Jaya! Jaya!

Tim mulai berkemas ketika waktu kira-kita jam 10 pagi. Cuaca masih cerah, matahari bersinar terang. Pohon-pohon edelweiss seakan setia menunggu, sebagaimana dulu saya berada di tempat yang indah itu.

Jalur menurun menuju Gunung Putri sedikit agak berdebu, saya berhasil mencapai finish di pos Gunung Putri sekitar jam 14.00, tidak ada air di tempat itu, jadi saya harus turun ke rumah penduduk untuk segera mandi dang anti baju

Hasil dokumentasi cukup bagus, dua foto saya kirimkan kepada Bu Karen lewat email asistennya yang telah berjanji akan meneruskan ke beliau. Semoga beliau mengetahui apresiasi tulus ini.

Terima kasih kepada tim semua yang mendukung kegiatan ini, yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah, semoga kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi di antara kita dan menjadi awal yang baik untuk bersama membangun komunitas pecinta alam Pertamina dan Anak Perusahaan yang hebat dan berdaya guna.

Patrapala, Never Give Up!



Senin, 04 Agustus 2014

Susur Gua Petruk & Liyah Part 2


Selesai beristirahat kami kembali berjalan kearah kanan menyusuri jalan setapak yang cukup lebar, tak berapa lama teriakan pemandu mengingatkan kami kalau Gua Liyah ada di kanan bawah jalan setapak. Saya sempat ragu karena yang terlihat di kanan saya adalah semak belukar yang rimbun dan sungai kecil, dimana mulut gua nya?

Mas Yos pemandu kami berjalan menerobos semak belukar itu, kemudian dia lenyap di telan lebatnya belukar, saya dan beberapa teman yang berada dibarisan depan segera mengejar kearah belukar dimana hilangnya pemandu kami.

Ternyata dibalik rimbunnya belukar tadi adalah pintu masuk Gua Liyah 2 yang tidak terlihat dari luar.

Mulut gua cukup sempit untuk dimasuki, kami seperti berbaris saat memasukinya.

Detak jantung kami berdetak cepat seketika ketika memasuki mulut gua, ada mahluk berwarna gelap melayang menabrak kami dengan tiba-tiba dari dalam gua, mahluk berbulu dengan rentang sayapnya sekitar 60 cm.

Setelah kami amati dengan seksama, makluk tersebut ternyata seekor burung hantu penghuni Gua Liyah, rupanya burung hantu itu sama kagetnya dengan kehadiran kami.


Gua Liyah adalah Gua Horizontal dan Vertikal dengan panjang lorong  lebih dari 2 km menembus bukit karst.

Masuk ke gua ini, tim Patrapala tidak membagi formasi ekspedisi, kami masuk bersamaan dikarenakan 200 meter pertama dari mulut gua adalah lorong besar dan cukup panjang.

Tidak tercium aroma kotoran kelelawar dilorong ini, rupanya sangat sedikit kelelawar yang tinggal disini.

Saya berinisiatif untuk berjalan paling depan.

Disepanjang lorong banyak sekali batuan (flowstone) yang bertebaran di dinding gua, pantulan headlamp kami seolah diserap dan dibiaskan kembali oleh batu-batu tersebut, nampak bercahaya jika disorot lampu, lantainya datar dan lembab, hanya saja banyak sekali lubang-lubang bekas galian phospat yang kedalamannya antara 1-4 meter, kami harus hati-hati melewatinya, salah-salah kami bisa terperosok kedalamnya.

Terus menyusuri lorong ini, kami banyak menemukan jejak-jejak kaki binatang yang kami perkirakan penghuni tetap gua, kewaspadaan kembali kami tingkatkan untuk mencegah hal-hal yang tidak kami inginkan.

Jalan menikung ke kiri, kembali kami dihadapkan pada stage yang cukup sulit, patahan gua menyerupai retakan harus kami lalui, kami berjalan berurutan, jalan sempit dan berliku sempat membuat ciut dalam melangkah, dikarenakan banyak percabangan yang menipu, saya berjalan berlahan sambil menunggu pemandu mengejar ke barisan depan.

Masih memasuki lorong sempit dan  penuh liku, pemandu menghentikan langkah, kali ini lobang kecil dengan tinggi ± 30 cm menghadang kami, merayap satu-satunya jalan untuk melewati jalan ini. Satu persatu kami masuk kedalam, untunglah panjang lorong tidak lebih dari 2 meter, dan kami bisa berdiri tegak kembali.


Lorong sempit ini memaksa kami harus antri memasukinya, jumlah personel yang banyak dan tempat yang sempit membuat saya dan teman-teman harus menunggu diujung, sementara oksigen semakin menipis dititik kami berdiri.



Saya putuskan untuk berjalan mendahului yang lain, beberapa teman yang sudah melewati lorong saya ajak untuk menjauhi.


Waktu terus berjalan, semakin masuk kedalam bumi semakin sulit medan yang kami lalui, tak banyak ornament stalagtit dan stalagmite yang kami temui, dikarenakan memang patahan ini jarang terdapat ornamentnya.

Langkah kami kembali terhenti oleh jurang 3 tingkat, masing-masing tingkat bervariasi ketinggiannya, tingkat pertama 4 meter, tingkat kedua 3 meter dan tingkat ketiga 2 meter.


Kami menggunakan webbing untuk menuruninya, satu persatu kami merosot turun, telapak tangan terasa panas menggenggam webbing walaupun kami memakai sarung tangan, tapi itu tidak menyurutkan nyali kami untuk melanjutkan langkah, justru kami semakin termotifasi oleh medan gua ini.

Kami saling bahu membahu dalam menuruni jurang 3 tingkat ini, terlihat jelas rasa keakraban dan rasa saling tolong menolong antar anggota, sangat membanggakan.

Saya paling dahulu menginjakan kaki dilantai paling bawah, dan sudah menjadi keharusan untuk memandu langkah teman-teman yang masih bergelantungan diatas, kiri-kiri, injak batu yang paling kanan, teriak saya berkali-kali, tak jarang saya harus menangkap tubuh teman-teman yang tergelincir untuk mengurangi resiko cidera akibat licinnya dinding gua ini.

Hampir sebagian besar teman-teman sudah berada di lantai bawah dan saya putuskan untuk melanjutkan langkah, diikuti beberapa teman, kami berjalan semakin dalam ke perut bumi.

Asik berjalan sambil melihat sekeliling, langkah kami terhenti oleh jurang yang sangat dalam, entah berapa meter kedalamannya, tapi diperkirakan ada belasan meter. Kami berjalan memutari jurang untuk menuju titik dimana kami harus menuruni jurang ini, saya sempat berkeliling melihat keadaan dan inilah saatnya kami harus mengeluarkan peralatan SRT (single roof technic) yang kami bawa.

Sementara pemandu
menginstal peralatan untuk repling di tepi jurang, saya mengambil webbing untuk dibuat simpul body hardness ke badan, salah satu pemandu turun untuk mencoba kesempurnaan repling ini, diurutan ke tiga saya memastikan diri turun untuk membantu teman-teman dibawah sana, rasa kebas melihat diketinggian membuat adrenalin saya naik, sungguh menantang.

Carabiner dikaitkan, berlahan tapi pasti saya menuruni tebing jurang ini, kanan kiri terlihat gelap, hanya dinding depan dan bawah yang terlihat dari sorot headlamp, tak sampai 1 menit kaki saya sudah menejejak didasar jurang, Alhamdulillah.

Carabiner saya lepas dan mulai memberi komando untuk teman-teman diatas yang hendak turun, jumlah personel yang banyak dan antri turun membuat waktu berputar cepat ditempat ini.

Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 wib, sudah sore rupannya, sebagian personel masih diatas tapi rasa bosan menunggu mulai mendera dan saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Dengan membagi menjadi 2 kelompok, group pertama saya ajak untuk melanjutkan perjalanan dan group kedua adalah teman-teman yang masih “betah” diruangan sambil menunggu yang lain turun.

Saya pun berpamitan dengan pemandu disebelah.

Sambil melangkah, pandangan saya terpukau dengan luasnya ruangan gua, sangat luas dan besar, mungkin 1 lapangan bola bisa muat disini, sungguh luar biasa diperut bumi ada ruangan sebesar ini.

Berjalan menuruni luasnya ruangan yang berlumpur, kami menuju cerukan yang ada tetesan air untuk mengisi botol plastik kami yang sudah kosong, setelah terisi kami kembali melanjutkan perjalanan.

Ada persimpangan dilorong, arah kanan menuju air terjun dan arah kiri menuju pintu keluar, kami sempat berembuk sebentar untuk memutuskan, karena hari sudah menjelang magrib saya pun berkelakar “sudah sore sebentar lagi didalam sana gelap tidak ada lampu penerangan” sambil menunjuk arah kanan (air terjun), dan teman-teman pun terbahak.

Kami ambil keputusan untuk segera keluar dari perut bumi ini.

Berjalan menyusuri lorong berlumpur, kaki tenggelam cukup dalam, terasa berat kaki untuk melangkah, sering kami terpeleset akibat lumpur basah ini, tapi tekat kami untuk segera menghirup udara luar memacu semangat kami untuk terus bergerak.

30 menit dari persimpangan, terlihat cahaya sinar didepan, saya pun berteriak “finish teman-teman”, binar kegembiraan terpancar dari raut muka kami dan hampir bersamaan kami mengucapkan Alhamdulillah.

Pintu keluar Gua Liyah ini sangat kecil, diameter sekitar 1 meter dengan teralis besi sebagai penutupnya, letaknya berada ditebing tinggi desa Candirenggo menghadap ke barat, senja terlihat indah didepan kami, ladang dan persawahan terlihat dikejauhan, sungguh mempesona.

Semak belukar menyambut keluarnya kami dari dalam perut bumi.

Setelah istirahat dan menghirup udara luar beberapa saat, kami memutuskan untuk segera turun, tidak ada tanda arah disini, kami sempat kebingungan mencari arah jalan.

Maka saya putuskan ambil jalur kekanan kemudian menurun.

Matahari mulai redup, langkah kami percepat menuruni bukit, sepatu yang penuh lumpur basah dan jalan yang lembab membuat licin perjalanan turun ini, kami berjalan eksta hati-hati jika tidak mau terpeleset jatuh, karena dikiri kami adalah tebing terjal yang dalam, didepan nampak pos pantau air minum PDAM, kami berjalan melewati pinggiran pagarnya.

Lepas dari pos PDAM, kami berjalan menyusuri sungai kecil menuju perkampungan dibawah, melintasi pemakanam umum membuat bulu kudu berdiri, terkesan angker dengan banyaknya pohon besar dan hari yang menjelang gelap.

Kami terus berlari kecil menuruni jalan ini.

Kumandang Adzan Magrib terdengar bersamaan dengan langkah kami menginjakan kaki dipelataran parkir tempat home stay kami berada, segera saya dan teman-teman membersihkan diri.
by Mamas Adhi

Susur Gua Petruk & Liyah Part 1


Sabtu pagi , 17 Mei 2014 Hujan mengguyur kota Cilacap.

Tak mengurangi  semangat kami berkumpul di pelataran Pos Security GS untuk menuju Karst Gombong di sebelah Barat Kabupaten Kebumen, pembagian kendaraan sudah dipersiapkan untuk masing-masing orang.

Saya serta beberapa teman lebih memilih touring roda 2 dari pada ikut mini bus, karena memang niat dari awal adalah Touring dan Caving (2 hobi yang tersalurkan sekaligus).

Gerimis masih menyirami sepanjang jalan dari Cilacap menuju desa Candirenggo tempat dimana lokasi Gua Petruk dan Gua Liyah berada.

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat kami  tiba di home stay Gua Petruk, letaknya diujung utara pintu masuk pelataran parkir Gua Petruk, tempat yang asri, nyaman dan tenang.


Setelah sarapan nasi leles (menu wajib Patrapala)  kami pun berkemas, segala persiapan di cek ulang, helm, headlamp, batray, wearpack, sepatu tahan air, webbing, carabiner, peralatan SRT serta bekal makan dan minum sudah kami perhitungkan (karena target caving kami hari ini adalah 2 Gua sekaligus) perjalanan diperkirakan sampai pukul 5 sore.
Pukul 11.00 kami bersiap dan menghitung anggota yang ikut ekspedisi, 21 orang jumlahnya, jumlah yang cukup banyak menurut pemandu (mas Yos) ditambah beberapa orang penggiat caving dari beberapa kota yang bergabung dengan kami.

Dari halaman Parkir sampai dengan mulut Gua Petruk, kami harus menaiki jalan setapak dengan anak tangga sepanjang 450 meter, cukup untuk pemanasan fisik dan membuat kami berkeringat, tapi suasana yang sejuk dengan pepohonan rindang disekeliling serta  adanya air terjun 3 meter dari anakkan sungai Gua Petruk dikiri jalan setapak cukup membuat kami terhibur untuk memulai mengeluarkan kamera masing-masing.


Gua Petruk.

Gua Petruk adalah Gua Horizontal dengan kedalaman lorong mencapai ± 750 meter dengan kombinasi air sungai bawah tanah. Nama Gua Petruk berasal dari batuan yang menyerupai kepala Petruk dengan hidung mancungnya, karena ulah tangan manusia pada waktu itu (penggalian phosfat) maka hidung Petruk patah dan kini tidak lagi menyerupai kepala Petruk, mulut guanya sangat lebar sekitar 35 meter.

Kami pun berfoto bersama dimulut Gua Petruk.

Memasuki mulut Gua Petruk, Tim Patrapala dibagi menjadi 3 kelompok dan kebetulan saya masuk dikelompok ke 3.

50 meter pertama dari mulut gua, yang kami temui adalah kemercik air sungai sedalam ± 10-20 cm dan batuan flowstone. Semakin kedalam semakin gelap dan kegelapan abadi menjadi teman kami saat ini ditambah bau kotoran kelelawar sempat membuat perut mual.

Ornament batu tirai menyambut dan kami pun saling berlomba mengabadikannya.

Tak jauh dari batu tirai ada tanjakan disebelah kiri jalan, saya dan beberapa rekan menapakinya untuk melihat lantai atas. Nampak disana batu besar berwarna putih Kristal dengan air yang membasahi permukaannya dari atas sampai bawah, Nampak berkilap diterangi headlamp yang kami kenakan.

Saya melihat 5 orang sedang berjongkok didepan batu ini, entah apa yang mereka lakukan, mungkin sedang memuja, berdoa atau apalah, hanya mereka yang tahu.

Melewati batu putih besar saya mengambil arah kanan, terlihat disana (maaf) batu  Vagina, jika diamati batu ini memang menyerupai bentuk alat vital perempuan yang konon jika menyentuhnya maka jika laki-laki maka akan mendapatkan jodoh, dan jika perempuan yang sudah bersuami maka akan mendapatkan keturunan, entahlah hanya mitos atau kepercayaan?

Kembali menyusuri lorong gelap ini, kami mulai menemukan batuan stalagtit dan stalagmit yang beraneka ragam bentuknya, ada batu semar, sendang katak, batu golek, batu otak, batu payudara, sendang drajat, batu harimau, batu anoa dan masih banyak lagi batuan yang tidak dapat kami sebut satu persatu.

Tak banyak yang berubah sejak pertama kali saya masuk ke gua ini 22 tahun lalu, hanya saja lapisan ornament pada dinding gua bagian atas semakin menghitam dikarenakan kontaminasi asap dari lampu pertomak yang digunakan pemandu komersil untuk menerangi para wisatawan, sungguh disayangkan, padahal mereka bisa mengunakan lampu yang lebih friendly tanpa harus merusak warna dari permukaan ornament stalagtit dan stalagmit di dalam gua.

Dipertengahan jalan kami dihadapkan pada lobang sempit menanjak, jika perkiraan saya tidak salah, lobang tersebut berdiameter ± 40-50 cm, cukup sempit untuk ukuran kami, apa lagi yang memiliki lingkar perut diatas rata-rata, karena itulah sebagian dari kami harus menahan nafas untuk dapat melewatinya.

Setelah melewati lobang tersebut kami di dihadapkan pada lorong yang cukup besar memanjang dan rata seperti aula, konon disini tempat orang-orang bersemedi.

Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu teman-teman yang masih tercecer dibelakang. Sambil menunggu, kami mematikan headlamp untuk merasakan bagaimana rasanya berada dikegelapan abadi, sungguh mengerikan jika dibayangkan dengan hilangnya salah satu indra yang sangat penting ini dan kami disadarkan kembali bahwa kami dianugrahi kesempurnaan indra oleh Tuhan YME.


Setelah semua berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan dengan melewati retakan menuju batu lonceng, batu yang menyerupi lonceng dengan air yang mengucur jernih, satu persatu kami melewati lorong sempit dengan lebar kurang dari 1 meter yang tergenang air dengan ketinggian ± 30 cm, hanya dengan merangkak kami dapat melewatinya, basahlah wearpack kami.


Semakin jauh kedalam kami kembali dipaksa membumi oleh patahan horizontal dengan ketinggian sekitar 50 cm, cukup membuat pakaian kami berlumpur.


Dari kejauhan nampak bias sinar mentari menerobos masuk melewati celah batu-batu besar, semburat itu membuat kami semakin berpacu dengan langkah untuk segera mendaki batuan besar menuju mulut gua.

Tidak mudah mendakinya karena batuan ini sangat licin, penuh lubang  dan tajam, penghuni gua seperti ular dan kelabang perlu kami waspadai keberadaanya.

Menjelang pintu keluar gua saya melihat beberapa teman sudah sampai duluan, mereka asik mengabadikan gaya mereka dimulut gua, ternyata pintu keluar gua ini juga merupakan pintu masuk Gua Jemblongan.

Sambil menunggu teman-teman naik kepermukaan, kami beristirahat sambil membuka bekal masing-masing, senda gurau dan candaan menambah rasa persaudaraan ini semakin erat, kami saling berbagi makanan dan minuman, sungguh nikmat makan siang bersama teman-teman Patrapala di mulut gua, dinaungi lebatnya daun-daun jati dan aroma kas batuan kapur sekitar gua.
 
Pegunungan Karst Gombong.

Pukul 13.00 jam tangan saya berbunyi satu kali, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Gua Liyah 2.



Jalan menuju ke Gua Liyah harus kami tempuh melewati hutan jati dan punggungan bukit kapur, tidak mudah untuk kami lewati, ketinggian bukit yang mencapai puluhan meter kami tempuh dengan berjalan kaki, tanah berlumpur, batuan padas, semak belukar dan akar pohon jati kerap membuat kami kerepotan dalam melangkah naik, sungguh perjuangan yang menguras tenaga, keringat pun terus bercucuran. Di sela-sela dedaunan, terik mentari menerobos masuk, mencoba membakar kulit kami yang terbungkus wearpack basah.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan perkampungan penduduk, tidak banyak jumlahnya tapi sempat membuat kami bertanya tanya, bagaimana cara mereka berinteraksi dengan dunia luar?

Sinyal UHF, handphone, aliran listrik pun terbatas, jarak dan lokasi mereka sulit terjangkau oleh kemajuan teknologi, sarana dan prasarana bahkan tidak mereka nikmati sampai saat ini.

Kami mencoba membaur di salah satu rumah warga, banyak pertanyaan dan rasa penasaran kami yang mereka jawab dengan gamblang, sungguh kemerdekaan yang terbatas, tapi mereka menikmatinya dengan kesederhanaan.

Jamuan air putih dan gula merah mereka hidangkan untuk menyambut kami.

Gula merah adalah sumber mata pencaharian utama warga di daerah karst Gombong (nderes).

Tidak lama kami kembali melanjutkan perjalanan melalui punggungan bukit kapur ini, beberapa teman ada yang salah jalan sehingga harus diarahkan untuk kembali kejalur oleh warga.

1 jam kami berjalan melewati hutan jati, akhirnya kami tiba di jalan setapak, sebagian jalan sudah disemen bahkan sempat ada mobil pickup yang melintas dijalur ini.

Sambil menunggu teman yang tertinggal kami habiskan waktu dengan istirahat sambil bersenda gurau.

bersambung part 2..

Senin, 30 Juni 2014

Patrapala Semakin Eksis


kangen suasana seperti ini
sayangnya waktu ku yang tak janji
namun
harap tak henti
suatu saat nanti
pasti kita kan bersama lagi

Jakarta, 1 Juli 2014