Sabtu pagi , 17 Mei 2014 Hujan mengguyur kota Cilacap.
Tak mengurangi
semangat kami berkumpul di pelataran Pos Security GS untuk menuju Karst
Gombong di sebelah Barat Kabupaten Kebumen, pembagian kendaraan sudah
dipersiapkan untuk masing-masing orang.
Saya serta beberapa teman lebih memilih touring roda 2 dari
pada ikut mini bus, karena memang niat dari awal adalah Touring dan Caving (2
hobi yang tersalurkan sekaligus).
Gerimis masih menyirami sepanjang jalan dari Cilacap
menuju desa Candirenggo tempat dimana lokasi Gua
Petruk dan Gua Liyah berada.
Sekitar pukul 10.00 waktu setempat kami tiba di home stay Gua Petruk, letaknya diujung
utara pintu masuk pelataran parkir Gua Petruk, tempat yang asri, nyaman dan
tenang.
Setelah sarapan nasi leles (menu wajib Patrapala) kami pun berkemas, segala persiapan di cek
ulang, helm, headlamp, batray, wearpack, sepatu tahan air, webbing, carabiner, peralatan
SRT serta bekal makan dan minum sudah kami perhitungkan (karena target caving
kami hari ini adalah 2 Gua sekaligus) perjalanan diperkirakan sampai pukul 5
sore.
Pukul 11.00 kami bersiap dan menghitung anggota yang ikut
ekspedisi, 21 orang jumlahnya, jumlah yang cukup banyak menurut pemandu (mas Yos) ditambah beberapa orang penggiat caving dari
beberapa kota yang bergabung dengan kami.
Dari halaman Parkir sampai dengan mulut Gua Petruk, kami
harus menaiki jalan setapak dengan anak tangga sepanjang 450 meter, cukup untuk
pemanasan fisik dan membuat kami berkeringat, tapi suasana yang sejuk dengan
pepohonan rindang disekeliling serta
adanya air terjun 3 meter dari anakkan sungai Gua Petruk dikiri jalan
setapak cukup membuat kami terhibur untuk memulai mengeluarkan kamera
masing-masing.
Gua Petruk.
Gua Petruk adalah Gua Horizontal dengan kedalaman lorong
mencapai ± 750 meter dengan kombinasi air sungai bawah tanah. Nama Gua Petruk
berasal dari batuan yang menyerupai kepala Petruk dengan hidung mancungnya,
karena ulah tangan manusia pada waktu itu (penggalian phosfat) maka hidung
Petruk patah dan kini tidak lagi menyerupai kepala Petruk, mulut guanya sangat
lebar sekitar 35 meter.
Memasuki mulut Gua Petruk, Tim Patrapala dibagi menjadi 3
kelompok dan kebetulan saya masuk dikelompok ke 3.
50 meter pertama dari mulut gua, yang kami temui adalah kemercik
air sungai sedalam ± 10-20 cm dan batuan flowstone. Semakin kedalam semakin
gelap dan kegelapan abadi menjadi teman kami saat ini ditambah bau kotoran
kelelawar sempat membuat perut mual.
Tak jauh dari batu tirai ada tanjakan disebelah kiri
jalan, saya dan beberapa rekan menapakinya untuk melihat lantai atas. Nampak
disana batu besar berwarna putih Kristal dengan air yang membasahi permukaannya
dari atas sampai bawah, Nampak berkilap diterangi headlamp yang kami kenakan.
Saya melihat 5 orang sedang berjongkok didepan batu ini,
entah apa yang mereka lakukan, mungkin sedang memuja, berdoa atau apalah, hanya
mereka yang tahu.
Melewati batu putih besar saya mengambil arah kanan,
terlihat disana (maaf) batu Vagina, jika
diamati batu ini memang menyerupai bentuk alat vital perempuan yang konon jika
menyentuhnya maka jika laki-laki maka akan mendapatkan jodoh, dan jika
perempuan yang sudah bersuami maka akan mendapatkan keturunan, entahlah hanya
mitos atau kepercayaan?
Kembali menyusuri lorong gelap ini, kami mulai menemukan
batuan stalagtit dan stalagmit yang beraneka ragam bentuknya, ada batu semar, sendang
katak, batu golek, batu otak, batu payudara, sendang drajat, batu harimau, batu
anoa dan masih banyak lagi batuan yang tidak dapat kami sebut satu persatu.
Tak banyak yang berubah sejak pertama kali saya masuk ke
gua ini 22 tahun lalu, hanya saja lapisan ornament pada dinding gua bagian atas
semakin menghitam dikarenakan kontaminasi asap dari lampu pertomak yang
digunakan pemandu komersil untuk menerangi para wisatawan, sungguh disayangkan,
padahal mereka bisa mengunakan lampu yang lebih friendly tanpa harus merusak warna dari permukaan ornament
stalagtit dan stalagmit di dalam gua.
Dipertengahan jalan kami dihadapkan pada lobang sempit
menanjak, jika perkiraan saya tidak salah, lobang tersebut berdiameter ± 40-50
cm, cukup sempit untuk ukuran kami, apa lagi yang memiliki lingkar perut diatas
rata-rata, karena itulah sebagian dari kami harus menahan nafas untuk dapat melewatinya.
Setelah melewati lobang tersebut kami di dihadapkan pada
lorong yang cukup besar memanjang dan rata seperti aula, konon disini tempat
orang-orang bersemedi.
Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu teman-teman
yang masih tercecer dibelakang.
Sambil menunggu, kami mematikan headlamp untuk merasakan bagaimana rasanya
berada dikegelapan abadi, sungguh mengerikan jika dibayangkan dengan hilangnya
salah satu indra yang sangat penting ini dan kami disadarkan kembali bahwa kami
dianugrahi kesempurnaan indra oleh Tuhan YME.
Setelah semua berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan
dengan melewati retakan menuju batu lonceng, batu yang menyerupi lonceng dengan
air yang mengucur jernih, satu persatu kami melewati lorong sempit dengan lebar
kurang dari 1 meter yang tergenang air dengan ketinggian ± 30 cm, hanya dengan
merangkak kami dapat melewatinya, basahlah wearpack kami.
Semakin jauh kedalam kami kembali dipaksa membumi oleh patahan
horizontal dengan ketinggian sekitar 50 cm, cukup membuat pakaian kami
berlumpur.
Dari kejauhan nampak bias sinar mentari menerobos masuk
melewati celah batu-batu besar, semburat itu membuat kami semakin berpacu
dengan langkah untuk segera mendaki batuan besar menuju mulut gua.
Tidak mudah mendakinya karena batuan ini sangat licin,
penuh lubang dan tajam, penghuni gua
seperti ular dan kelabang perlu kami waspadai keberadaanya.
Menjelang pintu keluar gua saya melihat beberapa teman
sudah sampai duluan, mereka asik mengabadikan gaya mereka dimulut gua, ternyata
pintu keluar gua ini juga merupakan pintu masuk Gua Jemblongan.
Sambil menunggu teman-teman naik kepermukaan, kami
beristirahat sambil membuka bekal masing-masing, senda gurau dan candaan
menambah rasa persaudaraan ini semakin erat, kami saling berbagi makanan dan
minuman, sungguh nikmat makan siang bersama teman-teman Patrapala di mulut gua,
dinaungi lebatnya daun-daun jati dan aroma kas batuan kapur sekitar gua.
bersambung part 2..
Pegunungan Karst
Gombong.
Pukul 13.00 jam tangan saya berbunyi satu kali, kami
kembali melanjutkan perjalanan menuju Gua Liyah 2.
Jalan menuju ke Gua Liyah harus kami tempuh melewati
hutan jati dan punggungan bukit kapur, tidak mudah untuk kami lewati,
ketinggian bukit yang mencapai puluhan meter kami tempuh dengan berjalan kaki,
tanah berlumpur, batuan padas, semak belukar dan akar pohon jati kerap membuat
kami kerepotan dalam melangkah naik, sungguh perjuangan yang menguras tenaga,
keringat pun terus bercucuran. Di sela-sela dedaunan, terik mentari menerobos
masuk, mencoba membakar kulit kami yang terbungkus wearpack basah.
Ditengah perjalanan kami bertemu dengan perkampungan
penduduk, tidak banyak jumlahnya tapi sempat membuat kami bertanya tanya,
bagaimana cara mereka berinteraksi dengan dunia luar?
Sinyal UHF, handphone, aliran listrik pun terbatas, jarak
dan lokasi mereka sulit terjangkau oleh kemajuan teknologi, sarana dan
prasarana bahkan tidak mereka nikmati sampai saat ini.
Kami mencoba membaur di salah satu rumah warga, banyak
pertanyaan dan rasa penasaran kami yang mereka jawab dengan gamblang, sungguh
kemerdekaan yang terbatas, tapi mereka menikmatinya dengan kesederhanaan.
Jamuan air putih dan gula merah mereka hidangkan untuk menyambut
kami.
Gula merah adalah sumber mata pencaharian utama warga di
daerah karst Gombong (nderes).
Tidak lama kami kembali melanjutkan perjalanan melalui
punggungan bukit kapur ini, beberapa teman ada yang salah jalan sehingga harus
diarahkan untuk kembali kejalur oleh warga.
1 jam kami berjalan melewati hutan jati, akhirnya kami
tiba di jalan setapak, sebagian jalan sudah disemen bahkan sempat ada mobil pickup
yang melintas dijalur ini.
Sambil menunggu teman yang tertinggal kami habiskan waktu
dengan istirahat sambil bersenda gurau.
bersambung part 2..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar