Senin, 04 Agustus 2014

Susur Gua Petruk & Liyah Part 1


Sabtu pagi , 17 Mei 2014 Hujan mengguyur kota Cilacap.

Tak mengurangi  semangat kami berkumpul di pelataran Pos Security GS untuk menuju Karst Gombong di sebelah Barat Kabupaten Kebumen, pembagian kendaraan sudah dipersiapkan untuk masing-masing orang.

Saya serta beberapa teman lebih memilih touring roda 2 dari pada ikut mini bus, karena memang niat dari awal adalah Touring dan Caving (2 hobi yang tersalurkan sekaligus).

Gerimis masih menyirami sepanjang jalan dari Cilacap menuju desa Candirenggo tempat dimana lokasi Gua Petruk dan Gua Liyah berada.

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat kami  tiba di home stay Gua Petruk, letaknya diujung utara pintu masuk pelataran parkir Gua Petruk, tempat yang asri, nyaman dan tenang.


Setelah sarapan nasi leles (menu wajib Patrapala)  kami pun berkemas, segala persiapan di cek ulang, helm, headlamp, batray, wearpack, sepatu tahan air, webbing, carabiner, peralatan SRT serta bekal makan dan minum sudah kami perhitungkan (karena target caving kami hari ini adalah 2 Gua sekaligus) perjalanan diperkirakan sampai pukul 5 sore.
Pukul 11.00 kami bersiap dan menghitung anggota yang ikut ekspedisi, 21 orang jumlahnya, jumlah yang cukup banyak menurut pemandu (mas Yos) ditambah beberapa orang penggiat caving dari beberapa kota yang bergabung dengan kami.

Dari halaman Parkir sampai dengan mulut Gua Petruk, kami harus menaiki jalan setapak dengan anak tangga sepanjang 450 meter, cukup untuk pemanasan fisik dan membuat kami berkeringat, tapi suasana yang sejuk dengan pepohonan rindang disekeliling serta  adanya air terjun 3 meter dari anakkan sungai Gua Petruk dikiri jalan setapak cukup membuat kami terhibur untuk memulai mengeluarkan kamera masing-masing.


Gua Petruk.

Gua Petruk adalah Gua Horizontal dengan kedalaman lorong mencapai ± 750 meter dengan kombinasi air sungai bawah tanah. Nama Gua Petruk berasal dari batuan yang menyerupai kepala Petruk dengan hidung mancungnya, karena ulah tangan manusia pada waktu itu (penggalian phosfat) maka hidung Petruk patah dan kini tidak lagi menyerupai kepala Petruk, mulut guanya sangat lebar sekitar 35 meter.

Kami pun berfoto bersama dimulut Gua Petruk.

Memasuki mulut Gua Petruk, Tim Patrapala dibagi menjadi 3 kelompok dan kebetulan saya masuk dikelompok ke 3.

50 meter pertama dari mulut gua, yang kami temui adalah kemercik air sungai sedalam ± 10-20 cm dan batuan flowstone. Semakin kedalam semakin gelap dan kegelapan abadi menjadi teman kami saat ini ditambah bau kotoran kelelawar sempat membuat perut mual.

Ornament batu tirai menyambut dan kami pun saling berlomba mengabadikannya.

Tak jauh dari batu tirai ada tanjakan disebelah kiri jalan, saya dan beberapa rekan menapakinya untuk melihat lantai atas. Nampak disana batu besar berwarna putih Kristal dengan air yang membasahi permukaannya dari atas sampai bawah, Nampak berkilap diterangi headlamp yang kami kenakan.

Saya melihat 5 orang sedang berjongkok didepan batu ini, entah apa yang mereka lakukan, mungkin sedang memuja, berdoa atau apalah, hanya mereka yang tahu.

Melewati batu putih besar saya mengambil arah kanan, terlihat disana (maaf) batu  Vagina, jika diamati batu ini memang menyerupai bentuk alat vital perempuan yang konon jika menyentuhnya maka jika laki-laki maka akan mendapatkan jodoh, dan jika perempuan yang sudah bersuami maka akan mendapatkan keturunan, entahlah hanya mitos atau kepercayaan?

Kembali menyusuri lorong gelap ini, kami mulai menemukan batuan stalagtit dan stalagmit yang beraneka ragam bentuknya, ada batu semar, sendang katak, batu golek, batu otak, batu payudara, sendang drajat, batu harimau, batu anoa dan masih banyak lagi batuan yang tidak dapat kami sebut satu persatu.

Tak banyak yang berubah sejak pertama kali saya masuk ke gua ini 22 tahun lalu, hanya saja lapisan ornament pada dinding gua bagian atas semakin menghitam dikarenakan kontaminasi asap dari lampu pertomak yang digunakan pemandu komersil untuk menerangi para wisatawan, sungguh disayangkan, padahal mereka bisa mengunakan lampu yang lebih friendly tanpa harus merusak warna dari permukaan ornament stalagtit dan stalagmit di dalam gua.

Dipertengahan jalan kami dihadapkan pada lobang sempit menanjak, jika perkiraan saya tidak salah, lobang tersebut berdiameter ± 40-50 cm, cukup sempit untuk ukuran kami, apa lagi yang memiliki lingkar perut diatas rata-rata, karena itulah sebagian dari kami harus menahan nafas untuk dapat melewatinya.

Setelah melewati lobang tersebut kami di dihadapkan pada lorong yang cukup besar memanjang dan rata seperti aula, konon disini tempat orang-orang bersemedi.

Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu teman-teman yang masih tercecer dibelakang. Sambil menunggu, kami mematikan headlamp untuk merasakan bagaimana rasanya berada dikegelapan abadi, sungguh mengerikan jika dibayangkan dengan hilangnya salah satu indra yang sangat penting ini dan kami disadarkan kembali bahwa kami dianugrahi kesempurnaan indra oleh Tuhan YME.


Setelah semua berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan dengan melewati retakan menuju batu lonceng, batu yang menyerupi lonceng dengan air yang mengucur jernih, satu persatu kami melewati lorong sempit dengan lebar kurang dari 1 meter yang tergenang air dengan ketinggian ± 30 cm, hanya dengan merangkak kami dapat melewatinya, basahlah wearpack kami.


Semakin jauh kedalam kami kembali dipaksa membumi oleh patahan horizontal dengan ketinggian sekitar 50 cm, cukup membuat pakaian kami berlumpur.


Dari kejauhan nampak bias sinar mentari menerobos masuk melewati celah batu-batu besar, semburat itu membuat kami semakin berpacu dengan langkah untuk segera mendaki batuan besar menuju mulut gua.

Tidak mudah mendakinya karena batuan ini sangat licin, penuh lubang  dan tajam, penghuni gua seperti ular dan kelabang perlu kami waspadai keberadaanya.

Menjelang pintu keluar gua saya melihat beberapa teman sudah sampai duluan, mereka asik mengabadikan gaya mereka dimulut gua, ternyata pintu keluar gua ini juga merupakan pintu masuk Gua Jemblongan.

Sambil menunggu teman-teman naik kepermukaan, kami beristirahat sambil membuka bekal masing-masing, senda gurau dan candaan menambah rasa persaudaraan ini semakin erat, kami saling berbagi makanan dan minuman, sungguh nikmat makan siang bersama teman-teman Patrapala di mulut gua, dinaungi lebatnya daun-daun jati dan aroma kas batuan kapur sekitar gua.
 
Pegunungan Karst Gombong.

Pukul 13.00 jam tangan saya berbunyi satu kali, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Gua Liyah 2.



Jalan menuju ke Gua Liyah harus kami tempuh melewati hutan jati dan punggungan bukit kapur, tidak mudah untuk kami lewati, ketinggian bukit yang mencapai puluhan meter kami tempuh dengan berjalan kaki, tanah berlumpur, batuan padas, semak belukar dan akar pohon jati kerap membuat kami kerepotan dalam melangkah naik, sungguh perjuangan yang menguras tenaga, keringat pun terus bercucuran. Di sela-sela dedaunan, terik mentari menerobos masuk, mencoba membakar kulit kami yang terbungkus wearpack basah.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan perkampungan penduduk, tidak banyak jumlahnya tapi sempat membuat kami bertanya tanya, bagaimana cara mereka berinteraksi dengan dunia luar?

Sinyal UHF, handphone, aliran listrik pun terbatas, jarak dan lokasi mereka sulit terjangkau oleh kemajuan teknologi, sarana dan prasarana bahkan tidak mereka nikmati sampai saat ini.

Kami mencoba membaur di salah satu rumah warga, banyak pertanyaan dan rasa penasaran kami yang mereka jawab dengan gamblang, sungguh kemerdekaan yang terbatas, tapi mereka menikmatinya dengan kesederhanaan.

Jamuan air putih dan gula merah mereka hidangkan untuk menyambut kami.

Gula merah adalah sumber mata pencaharian utama warga di daerah karst Gombong (nderes).

Tidak lama kami kembali melanjutkan perjalanan melalui punggungan bukit kapur ini, beberapa teman ada yang salah jalan sehingga harus diarahkan untuk kembali kejalur oleh warga.

1 jam kami berjalan melewati hutan jati, akhirnya kami tiba di jalan setapak, sebagian jalan sudah disemen bahkan sempat ada mobil pickup yang melintas dijalur ini.

Sambil menunggu teman yang tertinggal kami habiskan waktu dengan istirahat sambil bersenda gurau.

bersambung part 2..

Tidak ada komentar: