Senin, 04 Agustus 2014

Susur Gua Petruk & Liyah Part 1


Sabtu pagi , 17 Mei 2014 Hujan mengguyur kota Cilacap.

Tak mengurangi  semangat kami berkumpul di pelataran Pos Security GS untuk menuju Karst Gombong di sebelah Barat Kabupaten Kebumen, pembagian kendaraan sudah dipersiapkan untuk masing-masing orang.

Saya serta beberapa teman lebih memilih touring roda 2 dari pada ikut mini bus, karena memang niat dari awal adalah Touring dan Caving (2 hobi yang tersalurkan sekaligus).

Gerimis masih menyirami sepanjang jalan dari Cilacap menuju desa Candirenggo tempat dimana lokasi Gua Petruk dan Gua Liyah berada.

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat kami  tiba di home stay Gua Petruk, letaknya diujung utara pintu masuk pelataran parkir Gua Petruk, tempat yang asri, nyaman dan tenang.


Setelah sarapan nasi leles (menu wajib Patrapala)  kami pun berkemas, segala persiapan di cek ulang, helm, headlamp, batray, wearpack, sepatu tahan air, webbing, carabiner, peralatan SRT serta bekal makan dan minum sudah kami perhitungkan (karena target caving kami hari ini adalah 2 Gua sekaligus) perjalanan diperkirakan sampai pukul 5 sore.
Pukul 11.00 kami bersiap dan menghitung anggota yang ikut ekspedisi, 21 orang jumlahnya, jumlah yang cukup banyak menurut pemandu (mas Yos) ditambah beberapa orang penggiat caving dari beberapa kota yang bergabung dengan kami.

Dari halaman Parkir sampai dengan mulut Gua Petruk, kami harus menaiki jalan setapak dengan anak tangga sepanjang 450 meter, cukup untuk pemanasan fisik dan membuat kami berkeringat, tapi suasana yang sejuk dengan pepohonan rindang disekeliling serta  adanya air terjun 3 meter dari anakkan sungai Gua Petruk dikiri jalan setapak cukup membuat kami terhibur untuk memulai mengeluarkan kamera masing-masing.


Gua Petruk.

Gua Petruk adalah Gua Horizontal dengan kedalaman lorong mencapai ± 750 meter dengan kombinasi air sungai bawah tanah. Nama Gua Petruk berasal dari batuan yang menyerupai kepala Petruk dengan hidung mancungnya, karena ulah tangan manusia pada waktu itu (penggalian phosfat) maka hidung Petruk patah dan kini tidak lagi menyerupai kepala Petruk, mulut guanya sangat lebar sekitar 35 meter.

Kami pun berfoto bersama dimulut Gua Petruk.

Memasuki mulut Gua Petruk, Tim Patrapala dibagi menjadi 3 kelompok dan kebetulan saya masuk dikelompok ke 3.

50 meter pertama dari mulut gua, yang kami temui adalah kemercik air sungai sedalam ± 10-20 cm dan batuan flowstone. Semakin kedalam semakin gelap dan kegelapan abadi menjadi teman kami saat ini ditambah bau kotoran kelelawar sempat membuat perut mual.

Ornament batu tirai menyambut dan kami pun saling berlomba mengabadikannya.

Tak jauh dari batu tirai ada tanjakan disebelah kiri jalan, saya dan beberapa rekan menapakinya untuk melihat lantai atas. Nampak disana batu besar berwarna putih Kristal dengan air yang membasahi permukaannya dari atas sampai bawah, Nampak berkilap diterangi headlamp yang kami kenakan.

Saya melihat 5 orang sedang berjongkok didepan batu ini, entah apa yang mereka lakukan, mungkin sedang memuja, berdoa atau apalah, hanya mereka yang tahu.

Melewati batu putih besar saya mengambil arah kanan, terlihat disana (maaf) batu  Vagina, jika diamati batu ini memang menyerupai bentuk alat vital perempuan yang konon jika menyentuhnya maka jika laki-laki maka akan mendapatkan jodoh, dan jika perempuan yang sudah bersuami maka akan mendapatkan keturunan, entahlah hanya mitos atau kepercayaan?

Kembali menyusuri lorong gelap ini, kami mulai menemukan batuan stalagtit dan stalagmit yang beraneka ragam bentuknya, ada batu semar, sendang katak, batu golek, batu otak, batu payudara, sendang drajat, batu harimau, batu anoa dan masih banyak lagi batuan yang tidak dapat kami sebut satu persatu.

Tak banyak yang berubah sejak pertama kali saya masuk ke gua ini 22 tahun lalu, hanya saja lapisan ornament pada dinding gua bagian atas semakin menghitam dikarenakan kontaminasi asap dari lampu pertomak yang digunakan pemandu komersil untuk menerangi para wisatawan, sungguh disayangkan, padahal mereka bisa mengunakan lampu yang lebih friendly tanpa harus merusak warna dari permukaan ornament stalagtit dan stalagmit di dalam gua.

Dipertengahan jalan kami dihadapkan pada lobang sempit menanjak, jika perkiraan saya tidak salah, lobang tersebut berdiameter ± 40-50 cm, cukup sempit untuk ukuran kami, apa lagi yang memiliki lingkar perut diatas rata-rata, karena itulah sebagian dari kami harus menahan nafas untuk dapat melewatinya.

Setelah melewati lobang tersebut kami di dihadapkan pada lorong yang cukup besar memanjang dan rata seperti aula, konon disini tempat orang-orang bersemedi.

Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu teman-teman yang masih tercecer dibelakang. Sambil menunggu, kami mematikan headlamp untuk merasakan bagaimana rasanya berada dikegelapan abadi, sungguh mengerikan jika dibayangkan dengan hilangnya salah satu indra yang sangat penting ini dan kami disadarkan kembali bahwa kami dianugrahi kesempurnaan indra oleh Tuhan YME.


Setelah semua berkumpul, kami pun melanjutkan perjalanan dengan melewati retakan menuju batu lonceng, batu yang menyerupi lonceng dengan air yang mengucur jernih, satu persatu kami melewati lorong sempit dengan lebar kurang dari 1 meter yang tergenang air dengan ketinggian ± 30 cm, hanya dengan merangkak kami dapat melewatinya, basahlah wearpack kami.


Semakin jauh kedalam kami kembali dipaksa membumi oleh patahan horizontal dengan ketinggian sekitar 50 cm, cukup membuat pakaian kami berlumpur.


Dari kejauhan nampak bias sinar mentari menerobos masuk melewati celah batu-batu besar, semburat itu membuat kami semakin berpacu dengan langkah untuk segera mendaki batuan besar menuju mulut gua.

Tidak mudah mendakinya karena batuan ini sangat licin, penuh lubang  dan tajam, penghuni gua seperti ular dan kelabang perlu kami waspadai keberadaanya.

Menjelang pintu keluar gua saya melihat beberapa teman sudah sampai duluan, mereka asik mengabadikan gaya mereka dimulut gua, ternyata pintu keluar gua ini juga merupakan pintu masuk Gua Jemblongan.

Sambil menunggu teman-teman naik kepermukaan, kami beristirahat sambil membuka bekal masing-masing, senda gurau dan candaan menambah rasa persaudaraan ini semakin erat, kami saling berbagi makanan dan minuman, sungguh nikmat makan siang bersama teman-teman Patrapala di mulut gua, dinaungi lebatnya daun-daun jati dan aroma kas batuan kapur sekitar gua.
 
Pegunungan Karst Gombong.

Pukul 13.00 jam tangan saya berbunyi satu kali, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Gua Liyah 2.



Jalan menuju ke Gua Liyah harus kami tempuh melewati hutan jati dan punggungan bukit kapur, tidak mudah untuk kami lewati, ketinggian bukit yang mencapai puluhan meter kami tempuh dengan berjalan kaki, tanah berlumpur, batuan padas, semak belukar dan akar pohon jati kerap membuat kami kerepotan dalam melangkah naik, sungguh perjuangan yang menguras tenaga, keringat pun terus bercucuran. Di sela-sela dedaunan, terik mentari menerobos masuk, mencoba membakar kulit kami yang terbungkus wearpack basah.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan perkampungan penduduk, tidak banyak jumlahnya tapi sempat membuat kami bertanya tanya, bagaimana cara mereka berinteraksi dengan dunia luar?

Sinyal UHF, handphone, aliran listrik pun terbatas, jarak dan lokasi mereka sulit terjangkau oleh kemajuan teknologi, sarana dan prasarana bahkan tidak mereka nikmati sampai saat ini.

Kami mencoba membaur di salah satu rumah warga, banyak pertanyaan dan rasa penasaran kami yang mereka jawab dengan gamblang, sungguh kemerdekaan yang terbatas, tapi mereka menikmatinya dengan kesederhanaan.

Jamuan air putih dan gula merah mereka hidangkan untuk menyambut kami.

Gula merah adalah sumber mata pencaharian utama warga di daerah karst Gombong (nderes).

Tidak lama kami kembali melanjutkan perjalanan melalui punggungan bukit kapur ini, beberapa teman ada yang salah jalan sehingga harus diarahkan untuk kembali kejalur oleh warga.

1 jam kami berjalan melewati hutan jati, akhirnya kami tiba di jalan setapak, sebagian jalan sudah disemen bahkan sempat ada mobil pickup yang melintas dijalur ini.

Sambil menunggu teman yang tertinggal kami habiskan waktu dengan istirahat sambil bersenda gurau.

bersambung part 2..

Senin, 30 Juni 2014

Patrapala Semakin Eksis


kangen suasana seperti ini
sayangnya waktu ku yang tak janji
namun
harap tak henti
suatu saat nanti
pasti kita kan bersama lagi

Jakarta, 1 Juli 2014

Selasa, 30 April 2013

Lama nggak update blog ini.




maaf teman-teman, lama nggak update blog ini. padahal banyak aktifitas yang telah dilakukan dan dapat diceritakan sejak terakhir kita mendaki puncak mahameru. misalnya: 1. pendakian ke rinjani 2. pendakian ke sindoro 3. bakti sosial di cilacap barat 4. bakti sosial di banjarnegara 5. fun tracking di nusa kambangan dll bukan berarti tidak terdokumentasi, kegiatan tersebut banyak di upload di group facebook. janji deh, akan diupdate as soon as

salam annisrul waqie

Jumat, 16 Desember 2011

Expedisi Puncak Mahameru






Merayakan HUT di puncak gunung? Tentu pengalaman yang menarik bagi siapa saja terutama yang punya hobby berpetualang. Dan ini bukan yang pertama, pada tanggal 10 Desember 2011 lalu Tim Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Refinery Unit IV Cilacap kembali merayakan HUT Pertamina ke 54 sekaligus HUT Patrapala ke 4 tahun di puncak gunung yang kali ini adalah gunung tertinggi di pulau Jawa yaitu puncak Mahameru (+3.676 mdpl).
Perjalanan ini di mulai dari Cilacap pada hari rabu malam tanggal 7 Desember 2011. Tim yang jumlahnya 31 orang, 6 orang diantaranya wanita, berangkat menggunakan Bus Handoyo dengan tujuan akhir kota Tumpang-Malang. Sementara itu 3 orang lagi lainnya, termasuk saya yang berangkat dari Jakarta, turut bergabung di Tumpang itu sehingga jumlah keseluruhnya adalah 34 orang. Cukup banyak!
Pagi itu cuaca cerah, Kamis, 8 Desember 2011, Pasar Tumpang – Malang terlihat mulai ramai oleh lalu lalang orang dan kendaraan. Puluhan carrier dan tenda yang kami bawa satu persatu mulai dinaikkan dan di ikat kuat di atap 3 buah mobil Jip Toyota Land Cruiser keluaran tahun 1972 yang akan mengantarkan kami ke desa terakhir Ranu Pane (+2.100 mdpl). Perjalanan menuju desa itu agak lama, 1,5 jam, namun cukup menegangkan sekaligus mengasyikkan. Jip dengan tulisan Malang Willis Club yang dipenuhi barang-barang dan 11 orang penumpang berdiri ini terasa sempit, namun ternyata cukup lincah ketika meniti jalanan sempit yang menanjak, berbelok tajam, dan sesekali menurun dengan jurang menganga di kanan kirinya. Jangan berpikir tentang standar safety sebagaimana layaknya karena menurut mereka itu sudah biasa.
Di tengah perjalanan, pemandangan indah membentang, lereng pengunungan Tengger hijau terhampar di kejauhan. Udara sejuk, sinar matahari sedikit terhalang, duduk untuk berhenti sejenak sambil menikmati bekal nasi pecel Malang plus rempeyek nya terasa nikmat, seakan kita sedang memandang ke layar alam yang sangat lebar. Lokasi ini dalam peta di sebut Bantengan. Dari tempat ini, desa Ranu pane tidaklah jauh lagi, tinggal sekitar ½ jam perjalanan saja yang melewati jalanan yang mulai menurun.
Sekitar jam 11 siang hari ketika kami tiba di pos pendakian Ranu pane. Barang-barang mulai diturunkan, persiapan pendakian pun dimulai, dan menjelang jam 12 siang kami mulai melangkah menyusur jalan pematang menuju base camp pertama Ranu Kumbolo. Tampak di sisi kanan para petani sibuk dengan ladang pertanian bawang dan kobis nya.
Perjalanan menuju Ranu Kumbolo memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan perjalanan yang santai. Track melalui hutan-hutan pinus dan rumputan yang agak tinggi. Terdapat 4 pos pendakian permanen di jalur ini yang kondisinya cukup baik, bahkan terlihat saat itu dalam proses perbaikan. Menjelang petang, di kejauhan Ranu Kumbolo telah tampak tenang di antara pebukitan dengan bangunan base camp Ranu Kumbolo tampak terlihat kecil di kejauhan, langit cerah, jalanan mulai menurun seakan tinggal selangkah mencapainya. Saya memilih jalur melintas tepi danau daripada melintasi punggung bukit, tentu konsekuensinya rintangan pepohonan yang tumbang atau bahkan yang menjorok ke danau harus dilewati.

Ranu Kumbolo ini memang nyaman untuk base camp, mengingat pemandangannya yang indah dan air yang melimpah. Itu sebabnya di banyak pendaki nge camp di sepanjang tepian danau ini. malam itu udara di luar cukup dingin, sinar rembulan lembut memantul di pemukaan air danau, pendar cahaya nya menghiasi malam kami. Good night!
Esok harinya, 9/12, kesibukan pagi hari dimulai, air danau yang cukup dingin tidak menghalangi sebagian dari kami untuk mandi. Segar rasanya. Beberapa penduduk local terlihat memancing. Sekitar jam 9 pagi pendakian dilanjutkan, diawali dengan jalanan yang agak menanjak hingga puncak, yang disebut tanjakan cinta, kemudian agak berbelok ke kiri menuruni lereng yang agak landai, dan nampaklah di sisi kanan oro-oro ombo, yaitu padang luas yang dipenuhi tanaman perdu dengan bunga-bunga warna warni, kabut tipis dikejauhan menambah keindahan panorama ini. Ketika melintasi oro-oro ombo ini, seakan kita berada di dunia lain, sunyi dan merasa kecil di tengah luasnya padang ilalang.
Memasuki lereng Gn. Kepolo, pohon-pohon pinus tinggi menjulang, sebagian tampak berlubang di pangkal nya, hangus bekas terbakar, beberapa diantaranya bahkan telah tumbang menyisakan arang. Jadi ingat kalau mau bakar ikan atau sate. Trek ini tidak berbeda dengan sebelumnya, hanya jenis vegetasi nya yang sedikit agak berbeda, banyak di dominasi oleh pinus dan pakis. Perjalanan sekitar 3-4 jam untuk mencapai pos berikutnya yaitu Kalimati (+2.700 mdpl), suatu padang rumput dengan pohon-pohon pinus di tepian nya. Latar belakang puncak Mahameru terlihat dari tempat ini. Di sini Tim pendaki biasanya mendirikan tenda dan meninggalkan perbekalan-perbekalan berat, untuk pendakian ke puncak mahameru di malam hari dengan hanya membawa daypack saja.
Beruntung pada malam tanggal 9/12 itu, langit masih cerah. Bulan bersinar terang, gerombolan rumput ilalang terlihat putih di kegelapan malam. Nggak repot untuk urusan belakang, cukup bawa golok dan tissue basah, sedikit sembunyi di antara rerumputan, gali lubang, dan … laksanakan gaya kucing, aman nggak ada yang lihat … ha.. ha..
Hujan rintik turun, waktu sekitar jam 10 malam, teman-teman masih terdiam di dalam tendanya masing-masing. kusempatkan keluar sebentar sekedar untuk buang air kecil, ku lihat lampu senter menyorot-nyorot, rupanya ada yang belum tidur, dan aku langsung masuk tenda lagi. Jam 11 malam teman-teman mulai bersiap-siap untuk rencana pendakian. Kita berkumpul untuk mendengarkan penjelasan dari ketua dan berdoa bersama. 2 orang tinggal di tenda, tidak mengikuti pendakian ke puncak ini, mereka berdua sudah pernah muncak katanya, demikian juga porter saya.
Adhi berkata padaku di sela perjalanan ke puncak saat itu, katanya ada sosok tinggi besar dan mungkin kunti di sisi pondokan, ada gorilla di sisi kanan tenda saya, ada mata yang menyorot-nyorot di sisi belakang tenda, dan ia melanjutkan… pak Anis tadi malam kencingnya menghadap ke sosok gorilla….hiiii!
Perjalanan menanjak terus, tidak terlalu lama hanya sekitar 1 jam telah tiba di pos Arcopodo. 2 orang anggota tidak kuat untuk melanjutkan pendakian dan diputuskan turun diantar oleh tim senior. Dari arcopodo ini angin bertiup semakin kuat, hingga kami menanyakan kepada anggota yang sudah pernah mendaki puncak ini, apakah hal ini aman? Mereka bilang sudah biasa angin berhembus kencang, kami hanya khawatir saja bila ada anggota yang terkena hypotermia, beruntung cuaca masih cerah, dan kemudian perjalanan dilanjutkan.
Memasuki trek pasir puncak mahameru, pendakian yang sesungguhnya dimulai, langkah kaki harus terampil mencari pijakan yang kuat, walau seringnya sih mlorot terus.
Selama pendakian puncak pasir ini, saya selalu di belakang istri, karena medan yang terjal dan berbahaya. Berkali-kali saya menahan kaki nya untuk membantunya melangkah. Walau seringnya mlorot lagi. Tentu saja saya tertinggal dari rombongan lainnya.
Matahari mulai menampakkan diri, tapi saya masih sekitar 2/3 perjalanan puncak. Istriku masih mencoba memaksakan diri, walau saya sesungguhnya mengkhawatirkannya. Kira-kira tinggal sekitar 100 meter lagi, ia menyerah karena sudah kelelahan. Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 7 pagi. Saya menemaninya turun, tapi dua orang teman, menawarkan diri untuk menemani istri saya turun dan mempersilahkan saya untuk melanjutkan pendakian. Karena istri saya mengiyakan, maka saya pun melanjutkan perjalanan ke puncak. Sekitar jam 7 lebih, saya baru dapat mencapai puncak Mahameru. Alhamdulillah.
Angin masih menderu kencang, dingin, matahari agak terik, teman-teman masih sibuk mengabadikan kegembiraan ini. Di kejauhan kawah semeru menyemburkan asapnya. Khawatir juga jika angin berubah kearah kami.





Saya tidak bisa terlalu lama di puncak ini, setelah foto bersama dan shooting pernyataan ucapan dirgahayu Pertamina ke 54, saya segera turun kembali untuk dapat mendampingi istri yang perlahan-lahan juga menuruni lereng semeru ini.
Trek menuruni puncak mahameru rupanya asik juga, kita seolah bermain sky di atas pasir, walau seringnya batu-batu pasir masuk dalam sepatu, tak ayal menuruni lereng berpasir ini hanya butuh waktu 1 jam saja, bandingkan saat naik yang 5-6 jam.
Di batas vegetasi, istriku telah menunggu, dan kami mulai menuruni pebukitan arcopodo bersama lagi. Sekitar jam 10 pagi, saya telah sampai kembali di base camp Kalimati. Wah capeknya. Hangatnya dalam tenda membuatku terlelap dalam tidur walau hanya sebentar.
Jam 12 siang lebih, tim mulai berkemas untuk kembali ke base camp ranu kumbolo, matahari agak terik saat itu. Saya mulai melangkahkan kaki sekitar jam 13.30. mengikuti porter pak suroto yang membantu mengangkatkan barang-barang kami. Setelah perjalanan sekitar 4 jam, kami telah sampai kembali di Ranu Kumbolo. Dua orang teman, si parno dan trimbil memutuskan lanjut ke Ranu Pane, sebenarnya saya juga ingin, tapi perjalanan yang masih 5 jam lagi tentu akan menjumpai perjalanan malam, dan diperkirakan tiba di ranu pane jam 9 malam. Tidak ah, lelah juga. Maka kuputuskan bareng sebagian besar teman yang lain untuk kembali nge camp semalam lagi di ranu kumbolo.
Hari itu, sabtu malam minggu, ada beberapa tim pendaki yang mulai berdatangan dan mendirikan tenda di ranu kumbolo ini. memang tempat yang favorit untuk pendaki.
Esok pagi hari minggu 11/12/11, kami mulai melanjutkan perjalanan balik ke Ranu Pane, tidak ada halangan berarti kecuali rindu pada yang dirumah. Berarti 3 malam kami lepas tanpa kabar, itu sebabnya ketika di sela-sela bukit yang terbuka ternyata ada sinyal, maka kesempatan itu tidak disia-siakan untuk mengabarkan pada anak-anak dan yang ti nya bahwa kami baik-baik saja. Hal yang sama juga dilakukan oleh rekan yang lain, terutama untuk update status di facebook.
Sekitar jam 12 siang, kami telah tiba di Ranu pane, berebut makan nasi rawon di warung yang ada atau berebut kamar mandi, karena sudah beberapa hari nggak mandi ha…haa. Kalau saya sih sudah mandi di ranu kumbolo.
Porter ku pamitan, head lamp ku yang lama kuberikan karena beliau ingin, oh ya tarif porter Rp 100 ribu per hari. Itu tarif normal. Jib yang akan membawa kami pulang telah datang, kali ini hanya 2 buah. Tentu saja kami berdesakan. Waktu yang tersisa digunakan untuk touring sejenak ke pelataran gunung bromo… sungguh mengasyikkan. Perjalanan ini, membawaku pada kenangan masa SMP ketika pertama kali aku camping di bawah kaki gunung bromo dan gunung batok.. sungguh memori yang indah.
Maghrib berlalu, bus handoyo sudah berangkat mengantarkan teman-teman dan istriku kembali ke Cilacap. Angkot yang kutumpangi membawaku kembali ke kota Malang, untuk besok paginya aku harus ke juanda terbang bersama sriwijaya air ke Bandung. Tugas telah menanti seperti biasa.
Terima kasih ya Allah engkau telah member kemudahan dalam perjalanan ini, terima kasih kepada semuanya, orang tua kita masing-masing yang karena doanya kita diberi kemudahan dan keselamatan hingga tiba kembali ke rumah.
Salam Patrapala
www.patrapala.blogspot.com

Senin, 24 Oktober 2011

Hanya Untuk Lebih Mengerti



Bagiku....

Mendaki gunung bukan untuk membuktikan sesuatu, karena memang tidak ada yang harus dibuktikan
Bukan untuk menaklukan, karena semua milik Nya tidak mungkin bisa aku taklukan,
Bukan juga untuk lari atau sembunyi karena sesungguhnya tidak ada tempat untuk sembunyi,
Juga bukan untuk mencari kesenangan karena dimanapun kita bisa mendapati kesenangan.

Hanya untuk lebih mengerti bagaimana hidup berjalan
Kadang mulus, tanpa rintangan
Kadang naik, tajam berliku...tapi kaki ini terus berjalan menapaki jejak setapak menuju ke puncak
Tidak mengeluh, karena yakin jalan yang dilalui pasti akan membawaku ke sana .....ke tempat yang dituju
Sering kali terjatuh, tetapi dengan ringan bangkit kemudian berjalan kembali.
Sesekali dihinggapi rasa takut....lelah, tetapi kaki terus saja dilangkahkan
Keyakinan itu yang membuatku tidak menghentikan langkah....bagaimanapun sulitnya jalan yang mesti dilewati....... (Ryanti Masdar)

Senin, 23 Mei 2011

Touring & Camping Air Terjun Suradinangga






Cuaca cerah berawan saat kami berkumpul di Pos Security Gunung Simping waktu menunjukan pukul 13.00 wib, setelah cek ricek maka diputuskan pukul 13.30 kami diberangkatkan menuju Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen Ajibarang. Tidak mudah menuju ke wilayah itu, jalur Cilacap – Wangon sangat dirasakan menyulitkan bagi kendaraan roda 2 yang kami naiki, lobang besar serta batu-batu penutup lobang sangat menghambat pejalanan ini, tapi Alhamdulillah semua sampai basecamp Glempang dengan selamat tepat pukul 15.00 walau sempat diguyur hujan saat memasuki Kota Ajibarang.

Di tengah derasnya hujan, sambutan cukup hangat kami rasakan dari warga dan Pak Lurah setempat, kami disambut dengan pertandingan bulutangkis persahabatan antara warga dengan Patrapala. Sesaat sebelum dimulai pertandingan, Patrapala juga ikut berbagi dengan menyumbangkan sejumlah kaleng cat untuk memperindah gedung olahraga desa tersebut.
Pukul 17.30 sebagian anggota Patrapala yang tidak mengikuti pertandingan bulutangkis berangkat menuju camp, cuaca gerimis masih menyiram kami saat tiba di camp pukul 19.00 (± 700 mdpl), tidak cuma Patrapala yang ada di wilayah camp tersebut, ada 12 orang warga yang membantu kami membuka lahan untuk tempat mendirikan tenda, karena tempat camp yang kami tempati masih berupa hutan pinus yang sangat rimbun.

Pukul 20.00 semua anggota sudah naik camp dengan selamat.
Setelah semua tenda terpasang dan anggota sudah beristirahat, dimulailah acara pencarian slayer bagi calon anggota baru. Jumlah anggota baru saat itu adalah 6 orang dan kebetulan saja semua wanita. Pencarian slayer pun dimulai pukul 21.00 dengan 3 kelompok pemberangkatan, masing-masing kelompok ada 2 calon anggota baru yang wajib mendapatkan slayer ditempat yang sudah panitia tentukan. Hanya lampu senter (headlamp) dari calon anggota dan lampu obor di tiap-tiap pos yang telah disiapkan panitia untuk menerangi jalan mereka dihutan pinus itu.
Satu persatu mereka saling berlomba mencari keberadaan slayer yang sudah kami sembunyikan di pos terakhir (naik ± 200 meter dari lokasi camp), kebetulan saya kebagian mengawasi di pos paling akhir ini beserta satu rekan lagi. Ada kejadian lucu dari calon anggota baru saat mereka mencari slayer masing-masing, ada yang cuek dengan keadaan, ada pula yang mencari sambil ketakutan, semua itu kami lakukan demi mengasah mental mereka.

Saat saya membuat suara-suara lirih menyerupai binatang malam dengan maksud untuk menguji nyali dari calon peserta dari tempat persembunyian, justru saya dan rekan yang menemani saya dikejutkan dengan suara binatang malam yang sesungguhnya, kurang lebih 5 meter dari saya ada suara binatang yang saya duga sebagai babi hutan (celeng) atau kucing hutan, karena rimbunnya semak dihutan tersebut saya dan teman saya tidak dapat melihatnya dengan jelas, hanya pantulan sepasang mata dan semak yang sedikit bergoyang ketika binatang itu bergerak.
Alhamdulillah, binatang itu menjauh, saya dan teman saya kembali melanjutkan pemantauan pencarian slayer. Selang beberapa menit kami melihat banyak senter menuju lokasi kami, saya sempat berpikir kenapa peserta pencarian slayer bertambah banyak, setelah dekat barulah saya mengetahui kalau sejumlah sinar senter yang mendekat berasal dari 8-10 orang warga yang sedari sore membantu kami mendirikan lokasi perkemahan. Karena penasaran saya pun keluar dari lokasi persembunyian.

Setelah saya temui dan bertanya, mereka menjawab hanya ingin mengontrol hutan tempat kami beruji nyali mengambil slayer, namun rasa kecemasan diraut wajah dan lampu senter yang mereka arahkan keberbagai arah tidak bisa mengusir rasa penasaran saya, akhirnya saya pun menanyakan kembali “sejatine wonten menopo pak?” (sesungguhnya ada apa pak?)
Salah satu dari mereka yang paling depan mendekati saya dengan suara berlahan menjawab, “wonten macan teng inggil kemah, wau kepanggeh kalian kulo lan rencang-rencang, medhak amargi wontem mambu bakaran ayam saking kemahan” (ada harimau diatas perkemahan, tadi terlihat oleh saya dan teman-teman, harimau turun gunung karena mencium bau ayam yang dibakar teman-teman yang tidak mengikuti acara uji nyali mencari slayer). Saya pun sempat bengong dan syok karena terlintas kejadian beberapa menit yang lalu saya sempat melihat pantulan sepasang mata tak jauh dari tempat saya dan rekan saya bersembunyi, jangan-jangan?

Karena acara pencarian slayer belum selesai, maka saya meminta tolong pada warga tersebut untuk membantu mengamankan lokasi di sepanjang jalur pencarian, dan sekali lagi kami masih diberikan keselamatan sehingga tepak pukul 22.30 acara pencarian slayer bisa selesai tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan. Kami semua pun turun ke tempat camp.
Setelah acara ramah tamah dan makan malam dengan sajian lauk ayam bakar plus sambal kecap, mata pun tak bisa diajak begadang lagi, sekitar pukul 00.30 saya menuju tenda dan tidur, malam itu bulan bersinar terang.

Pukul 05.00 saya terbangun, dan mendengar teman-teman yang lain sudah sebagian bangun dan sedang bercengkrama menceritakan pengalamannya masing-masing. Menghirup udara sejuk diluar tidak saya sia-siakan, dengan kaos dan celana pendek saya pun keluar tenda, indahnya hidup ini, sejuk, tenang, nyaman, seandainyai bisa tiap hari bisa bertemu dengan udara sebersih ini.
Sarapan sudah, bersih-bersih diri juga sudah, brefing sejenak untuk pembagian tugas acara inti yaitu tracking ke air terjun Suryadinaga, kami dibagi menjadi 3 (tiga) team.
Team pertama bertugas membuat jalur dan mengamankan jalur menuju air terjun. Tali, bayonet, dan alat penunjang lainnya pun siap dibawa, Saya, Joko, Beni, Ike dan beberapa warga sebagai ujung tombak pengamanan lokasi menuju air terjun, tepat pukul 08.30 kami berangkat, perjalanan yang penuh perjuangan dengan banyaknya semak-semak yang harus kami koyak supaya teman-teman yang dibelakang bisa melalui dengan aman.

Team kedua adalah sebagian besar dari anggota yang menyusul ke air terjun setelah kelompok pertama berangkat, kira-kira pukul 09.00 mereka diberangkatkan.
Team ketiga adalah teman-teman yang tidak ikut ke air terjun, mereka bertugas mengawasi tenda dan memasak untuk teman-teman yang kembali dari air terjun.
Kembali ke team pertama, kami terus mendaki menyibak hutan pinus yang kami perkirakan berada diketinggian 1000 mdpl, nafas terasa memburu ketika tanjakan demi tanjakan kami lalui, 30 menit kami libas hutan pinus dengan nafas memburu dan perjalanan tracking sebenarnya baru dimulai, didepan kami terbentang pemandangan punggung pegunungan dengan kanan kiri jurang sedalam ratusan meter, jangan sampai kami terpeleset atau lengah dalam perjalanan ini, tanjakan demi tanjakan kami lalui. Ditengah perjalanan saya melihat patok beton bercat hitam putih, dan menurut warga yang bersama kami, itu adalah batas wilayah Ajibarang dengan Bumiayu, wooww.. perjalanan saya sudah melewati perbatasan kata saya dalam hati.

Kami masih terus menguak belantara semak dipunggung bukit ini, ranting-ranting serta daun-daun berduri tajam mencoba menggores langkah kaki kami, pacet-pacet bertebaran disepanjang jalur yang jarang dilewati manusia ini. Tiba tiba salah seorang warga yang posisinya paling depan menghentikan langkah, mengambil sebungkus rokok dan beberapa uberampe disakunya, saya sempat berpikir untuk istirahat karena perkiraan saya, orang tersebut ingin menghisap sebatang atau dua batang rokok, ternyata pikiran saya itu salah, orang tersebut menaruhnya diatas batu, tepat disebelah kanan jalan yang akan kami lalui, saya kembali bertanya “kok ses’e ditilar teng watu mriku pak, eman-eman tesih setunggal bungkus” (kok rokoknya ditinggal di batu besar itu pak, sayang lho masih utuh satu bungkus), yang ditanyapun menjawab “inggih mas, kangge sing baurekso” (iya mas buat yang punya tempat ini), saya pun hanya bisa mengangguk mencoba memberi kebenaran.

Masih terkagum-kagum dengan trek dan keindahan panorama punggung bukit ini, kembali saya dikejutkan dengan kata-kata salah satu warga yang ikut bersama team ini, “niki wonten jejak macan, kadose saweng nandai daerahe” (ini ada jejak harimau, kelihatanya untuk menandai daerahnya) sambil menunjul tanah dengan guratan-guratan bekas korekan binatang. Rasa penasaran saya kembali keluar, “ngertose saking pundi menawi niki jejak macan?” (tahu dari mana kalau ini jejak harimau?), warga tersebut pun menjelaskan dengan detai setiap guratan-guratan ditanah yang terlihat di tepian jalan itu. Kembali saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan warga tersebut.
Diketinggian ± 1800 mdpl kami tiba dipertigaan, menurut warga, jika kami berjalan terus kami akan tiba di Kaligua ± 1,5 jam dari pertigaan ini, berhubung tujuan kami adalah ke air terjun maka kami langsung ambil jalur kanan dan menuruni lereng bukit yang cukup terjal dan licin, dari kejauhan kami mendengar deru air yang semakin lama semakin keras bunyinya. Setelah turun ± 500 meter dari petigaan tadi, kami tiba di sungai glodogan, sungai dimana air terjun yang kami tuju berasal, saya pun melirik jam tangan saya, pukul 11.10 tertulis disana.

Saya langsung menceburkan diri untuk membasuh kaki sambil melihat apakah ada binatang pacet menempel dikaki saya, ternyata kaki saya bersih dari binatang yang membuat jijik sebagian orang itu. Karena team kedua sudah terdengar suaranya dari atas sana, maka kami bergegas menuju celah dimana suara air terjun itu berasal untuk memasang tali pengaman.
Deru air dan pekatnya percikan air yang menghantam dari ketinggian 70 meter itu menimbulkan kabut yang cukup unik, suara saya pun tak terdengar sempurna, saya harus berteriak untuk bisa berkomunikasi dengan teman-teman yang berada disebelah saya. Oh indahnya.
Sambil mengagumi karunia yang ada didepan mata, kami berpacu dengan derasnya arus yang dihasilkan dari air terjun ini, mas Joko mencoba menjajaki kedalaman air tapi terhempas oleh kuatnya arus, untunglah ada tali yang membuatnya kembali keposisi aman. Setelah tali terpasang, kami melihat team kedua sudah sampai disungai glodogan ini dan mereka segera bergabung dengan kami.
Satu persatu mereka meniti tali menuju celah tebing dimana air terjun itu bersembunyi, pakaian yang mereka pakaipun dipaksa basah oleh derasnya arus, akhirnya semua bisa menikmati air terjun si pemalu ini.

Rasa lelah setelah perjalanan menuju air terjun ini seolah sirna, terlihat digurat keceriaan diwajah mereka, tapi tunggu, ada pelangi disana. Hemm.. Paradiso.
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk kembali ke camp, belum puas rasanya saya bermain di air terjun ini, tapi karena terbatasnya waktu dan rasa dingin yang menyerang membuat saya harus beranjak dari sini. Satu persatu semua peserta kembali meniti tali, melewati lorong tebing dengan hati-hati, ada sedikit rasa tak rela untuk menjauh dari sini, dalam hati hanya bisa berkata, suatu saat jika tuhan mengijinkan saya pasti kesini lagi.

Pukul 14.30 kami semua tiba di camp, rasa lelah setelah menempuh perjalanan cukup ekstrim dan kepuasan menikmati keindahan air terjun Suryadinaga membaur menjadi satu, kami pun beristirahat sejenak sambil minum dan makan pisang goreng yang dibuat oleh team ketiga, membereskan peralatan dan menggulung tenda adalah pekerjaan selanjutnya.
15.00 kami bersiap turun, tapi hujan deras menghambat langkah kami untuk segera sampai di desa Glempang, jalan licin berbatu membuat kami lebih hati-hati dalam melangkah, tak jarang dari kami harus merasakan kerasnya batuan itu saat jatuh terpeleset.
Sesampainya diperkampungan, saya dikejutkan oleh salah seorang anggota baru yang kram perutnya, untunglah kesigapan teman-teman Patrapala dapat membantunya, memang dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kesiapan fisik yang lebih prima dari keadaan biasa, baju basah ketika berada di air terjun hingga perjalanan pulang menuju perkampungan membuat badan kedinginan, staminapun menurun drastis.

Alhamdulillah pukul 17.00 kami semua bisa berkumpul dengan selamat di base desa Glempang, hujan pun telah reda, setelah bersih-bersih diri dan berganti pakaian, kami menyantap hidangan yang disajikan oleh keluarga Pak yoyong dan warga tempat kami menitipkan kendaraan. Pukul 17.30 kami semua berpamitan dan segera menuju kota tercinta dengan kenangan tersendiri dimasing-masing ingatan.

Semoga pihak-pihak terkait dapat membantu meningkatkan taraf kehidupan warga sekitar dengan menjadikan Air Terjun Suryadinaga sebagai tempat pariwisata dan untuk menjaga kelestariannya.
Salam Patrapala.
by Mamas Adhi

Sabtu, 06 November 2010

EKSPEDISI RINJANI 15-24 OKTOBER 2010





Expedisi Rinjani 2010 oleh Patrapala sebenarnya telah direcanakan sejak Juni 2009 dengan target sampai puncak Gunung Rinjani (3.726 m dpl) pada tanggal 17 Agustus 2010, tetapi karena pada Juli – Agustus 2010 ada kegiatan TA Kilang II serta Puasa Ramadhan, maka setelah melalui koordinasi, korespodensi dan survey data lokasi Gn. Rinjani, maka Patrapala berkesimpulan siap untuk melakukan Expedisi Rinjani 2010 dengan target di puncak pada tanggal 20.10.2010.
Team Expedisi beranggotakan 7 orang anggota PATRAPALA yang terdiri dari :
1. Yuliusman – MPS
2. Ristanto Heru – Security
3. Suparno Dansus – LOC II
4. Anggrono – RPO
5. Hans – Mahasiswa (anak Anggrono)
6. Eko Priyono – LS IT
7. Dadek – Mitra Pertamina.
Pada tanggal 14 Oktober 2010, Team Patrapala beraudiensi dengan Manager General Affairs dan Manager Production I selaku Ketua BAPOR RU IV, dengan maksud untuk mohon dukungan moril tentang kelancaran pelaksanaan dan pencapaian tujuan Expedisi Rinjani ini.
Team berangkat dari Cilacap pada tanggal 15.10.2010 pagi, start dari Gunung Simping dengan menggunakan Travello menuju ke Yogyakarta. Dan setelah sholat Jum’at di Yogya, Team meluncur ke Mataram dengan menggunakan Bus Safari Dharma Raya dan tiba di Mataram tanggal 16.10.2010 jam 17.00 WITA.
Di Mataram, team menginap di rumah Bpk. Kol. (Purn) Partijo ex Dandim Sumbawa dan keesokan harinya tanggal 17.10.2010 jam 06.00 WITA dengan menggunakan mobil carteran, team langsung menuju ke Base Camp pendakian di Sembalun Lawang, disana ada rumah penginapan sebagai tempat para pendaki dapat mempersiapkan perbekalan untuk pendakian ke Puncak Rinjani dari sini.
Setelah registrasi di gerbang pendakian Sembalun dengan membayar Rp. 2.500/orang, tepat jam 10.00 WITA, team mulai jalan kaki dengan tujuan Pelawangan Sembalun (2.902 m dpl) ( 8 jam berjalan kaki) dengan jalur yang sangat mengesankan untuk trail wisata yaitu padang savanna yang luas dengan sapi-sapi gemuk sedang makan rumput yang berjumlah ribuan dan jalurnya berliku-liku. Diperjalanan ini kami bermandikan peluh oleh teriknya matahari yang menyengat.
Tetapi dalam perjalanan ini turun hujan deras yang disertai badai, maka ditengah perjalanan Team berlindung di POS I Sembalun dan tertahan selama 2,5 jam.
Setelah hujan reda, team meneruskan penjalanan dengan menggunakan Jas Hujan untuk sampai di POS III jam 21.00 WITA dan berkemah disana dengan tidur bergiliran, karena banyak monyet yang bertaring, babi hutan, anjing dan Srigala sekitar kemah yang menurut Porter sering mengobarik-abrik ransel perbekalan pendaki yang sedang berkemah.
Pagi harinya tanggal 18.10.2010, setelah sarapan sambil mata sedikit was-was karena banyak monyet yang juga ingin sarapan bareng dengan kita, team melanjutkan perjalanan dan tiba di Pelawangan Sembalun (2.902 m dpl) jam 11.00 WITA.
Sebelum sampai Pelawangan Sembalun ini, kami melewati tanjakan yang oleh pendaki sana di sebut "Tanjakan Penyesalan". Karena setiap kali menanjak akan terlihat ujung tanjakan, berarti tanjakan akan selesai. Tapi, ternyata ada tanjakan lagi, begitu terus berulang-ulang. Bagi yang tidak sabar pasti merasa kesal, makanya di sebut "Tanjakan Penyesalan".
Tiba di Pelawangan Sembalun, setelah menanggalkan beban ransel yang berat, logistic berikut tenda, dengan membawa bekal air secukupnya, team bersama turis manca negara lainnya (Perancis, Ukrania, Belanda dan Kanada) langsung menunju ke Puncak Rinjani yang normalnya dapat ditempuh selama 3 jam.
Pemandangan sepanjang jalan menuju puncak bagus sekali, di sebalah kiri kita bisa menyaksikan Desa Sembalun Lawang, dan di sebelah kanan Danau Segara Anak yang ditengahnya ada anak Gn. Rinjani yang di sebut Gunung Barujari (2.376 m dpl)
Tetapi diperjalanan ke puncak ini, kami terkendala cuaca buruk, kabut yang sangat tebal dengan jarak pandang yang terbatas serta ada anggota team yang kram kakinya, maka diputuskan team kembali ke Pelawangan Sembalun untuk berkemah sambil mengatur strategi pendakian ke Puncak Rinjani.
Pada tanggal 19.10.2010 dini hari, diputuskan team dibagi dua :
Team I berjumlah 5 orang Patrapala dan turis asing berangkat menuju Puncak dan
Team II berjumlah 2 orang Patrapala turis lainnya standby di kemah sambil mempersiapkan sarapan, packaging tenda serta mengahalau hewan liar disekitar kemah.
Tepat jam 02.30 WITA, Team I mulai melakukan pendakian melewati jalan berbatu dan kerikil, jadi kami harus extra hati hati, bisa-bisa tergelincir karena sepanjang jalan disebelah kanan-kiri curam. Kemudian ketemu jalur berpasir dengan istilah tersendiri yaitu dengan sebutan three off one yaitu tiga langkah naik, kemudian 1 langkah melorot kebawah, karena pasirnya bercampur kerikil yang halus sehingga kalau jejak kaki kurang kuat, maka kaki akan melorot kebawah dan sepatu sering kemasukan pasir.
Dengan perjuangan yang berat, akhirnya tepat jam 06.00 WITA team sampai di Puncak Gunung Rinjani dengan mengibarkan bendera Merah Putih, PERTAMINA dan PATRAPALA sambil memandang indahnya selat Alas, Gunung Agung Bali dan Pulau Sumbawa dari kejauhan (sambil ber-photo-photo tentunya)
Setelah beristirahat sejenak sembari berphoto kayak model/artis, dengan menikmati panorama alam dan berbangga diri telah menginjakkan kaki disalah satu kaki langit tertinggi no 3 di Indonesia ini, serta menimbulkan rasa kekaguman akan ciptaan Tuhan, dengan semakin teriknya matahari, dan dirasa cukup puas, team langsung turun menuju perkemahan di Pelawangan Sembalun dan bersuka cita dengan team II sambil dengan lahapnya menyantap sarapan pagi yang tertunda......(to be continued)
Setelah beristirahat sebentar di Pelawangan Sembalum. sekitar jam 11.30 WITA, Team Patrapala melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Segara Anak (2.010 m dpl) yang ditempuh dengan waktu normal selama 3 jam dengan kondisi jalan turunan berbatu, terjal dan curam dan perlu extra hati-hati, Kalau perlu merambat dan merangkak untuk sampai ke bawah. Kadang harus berpegangan pada akar-akar yang menjuntai di bibir tebing agar tak terjatuh. Terus terang kami hanya geleng kepala melihat rute yang curam. Semoga saja tak memakan korban jiwa.
Perlu diketahui air Danau Segara Anak yang biru ini banyak mengandung belerang, jadi tidak enak untuk diminum, tapi di danau ini banyak sekali ikannya (ikan Mujair dan ikan Harper). Bibit ikan ini sengaja ditebarkan di sana dan sekarang ikannya cukup besar-besar. Banyak pendaki serta turis yang memancing dan mandi di danau yang tenang ini, sungguh sangat mengasyikan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan.
Team tiba di Danau Segara Anak pada jam 15.00 WITA, dan Porter langsung bergerak dengan mendirikan tenda serta masak air panas untuk buat kopi, anggota team lainnya mempersiapkan alat pancing dan mandi sepuas-puasnya (2 hari tidak mandi….bau? Nggak juga….udah biasa.) sambil memandang gunung Barujari di tengah danau yang tahun lalu sempat batuk sambil menyemburkan larvanya. Di sekitar Danau kita juga dapat melihat beberapa buah gua dengan sumber-sumber air belerang yang biasanya digunakan masyarakat untuk mencuci senjata-senjata pusaka seperti keris, tombak dan kelewang.
Pada saat Team Patrapala berada di Danau Segara Anak ini, juga sedang berlangsung upacara keagamaan umat Hindu yaitu sembahyangan pada bulan Purnama untuk menghormati Dewi Anjani yaitu Ratu jin penguasa Gunung Rinjani yang berparas cantik keturunan Raja Selaparang yang konon lahir dari perkawinan suku Sasak dan Jin, yaitu dengan berdo’a dan melarungkan ikan mas ke tengah danau (maksudnya emas tipis berbentuk ikan-ikanan..kalo ada yang mau menyelam untuk ambil….coba aja, karena selain dalamnya sekitar 200 m..…airnya dingiiiinnnn).
Dan malamnya, sambil sesekali mendengarkan pujian-pujian dari umat Hindu yang sedang berdo’a, di sudut danau lainnya kami menyalakan api unggun, bersenda gurau dan membicarakan skenario perjalanan esok hari sambil menyantap ikan hasil pancingan dengan diterangi bulan yang hampir penuh purnamanya. Dan tanpa terasa malam semakin larut, satu-persatu kami masuk tenda untuk mulai lomba “suara gergaji” antar peserta.
Pada tanggal 20.10.2010, setelah sarapan dan puas berphoto-photo dengan berbagai pose, jam 08.00 WITA, Team melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Senaru yang normalnya ditempuh selama 12 jam berjalan kaki.
Kemudian dari Danau Segara Anak (2.010 m dpl), team selanjutnya mulai berjalan lagi dengan mendaki Gunung Senkereang Jaya (2.902 m dpl) dengan jalur yang sangat terjal dan curam dengan sesekali merayap dinding gunung hingga sampai di Pelawangan Senaru (2.641 m dpl) jam 11.00 WITA untuk beristirahat sejenak di POS CEMARA sambil mengawasi tingkah polah monyet dan anjing disana serta mengambil air minum dimata air dekat pos untuk bekal perjalanan selanjutnya.
Pada saat menuruni Gunung Senkereang Jaya di POS III Senaru, kami bertemu turis dari Belgia yang berprofesi sebagai lawyer dan beberapa turis manca negara lainnya dalam kondisi cuaca hujan lebat yang mengguyur perjalanan kami. Dan setelah berdiskusi, Team yang terbagi dua tetap melanjutkan pejalanan dengan mengenakan Jas Hujan sampai di POS II Senaru dan mengambil air minum dialiran sungai dekat POS II (airnya bersih, alami dan segeeeeer)
Dalam perjalanan dari POS II menuju Base Camp Senaru ini, bulu kuduk team sempat merinding dan kaki terasa berat untuk melangkah, karena selain sudah agak gelap juga banyak pohon besar yang bertumbangan dengan posisi yang tidak lazim dengan akar-akar yang besar dan suara-suara hewan liar diperjalanan yang membuat kami terkaget-kaget (Alhamdulillah….nggak ada penampakan hanya suara-suara yang………..???), namun kami terus berzikir sambil mengingat Asma Allah SWT, dan akhirnya tepat jam 19.00 WITA sampailah team kami di Gerbang Senaru Jebak Gawah (disini ada warung yang jual minuman dan teh hangat…legaaaa sekali) dan setelah selesai minum teh hangat, badan kami terasa segaaaaar dan memacu semangat baru (tadinya kuyuuu banget), team melanjutkan lagi berjalan kaki selama 1½ jam hingga sampai di Base Camp Senaru untuk beristirahat disana sambil menunggu kedatangan anggota team lainnya untuk berbagi cerita selama perjalanan.
Expedisi Rinjani yang merupakan Gunung no 3 tertinggi di Indonseia ini merupakan perjalanan yang tak terlupakan bagi team Patrapala dan oleh pendaki lainnya dikatakan bahwa pendakian Gunung Rinjani adalah five star trekking (pendakian bintang lima) dengan jalur pendakian yang sangat menantang adrenalin dan mental kami sebagai pencinta alam.
Banyak cerita yang didapat dalam perjalanan ini, baik cerita yang seram, lucu, kesal, capek maupun senang yang akan kami tuangkan dalam bentuk photo-photo (sebentar lagi diupload di SIMOPS) dan akan menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk perbaikan /penyempurnaan misi program selanjutnya.
Dan pada kesempatan ini juga, saya mewakili team Expedisi Rinjani 2010 – PATRAPALA mengucapkan terima kasih ke GM RU IV, Manager General Affair dan Ketua BAPOR RU IV yang telah memberikan dukungan moril dan fasilitas hingga tercapainya tujuan misi Expedisi Rinjani ini.
Untuk rekan lainnya, jika ada yang berkeinginan untuk mendaki Gunung Rinjani, disarankan agar dari jauh hari dapat mempersiapkan perencanaan dengan matang, baik fisik, financial dan mental yang kuat.
Bravo Patrapala…Go There
www.patrapala.blogspot.com