Selasa, 12 Oktober 2010
Cerita pendakian ke Gn Sumbing awal bulan Agustus 2010 mana?
Jumat, 09 April 2010
PATRAPALA EKSPEDISI GN.CIREMAI 2-4 APRIL 2010
Tanggal 2-4 April 2010 kemarin Patrapala telah melakukan pendakian ke puncak Gn Ciremai +3078 mdpl di kabupaten Kuningan. Walaupun rencana pendakian ini sudah diumumkan sejak sebulan lalu lewat jalur FB, namun persiapan pendakian ini terbilang agak mendadak, karena 2 minggu sebelum nya, Patrapala juga melaksanakan Cilacap Cross Country di daerah Majenang.Dari pertigaan Cirendang jalan menanjak menuju desa Cigugur dimana terdapat pos pendakian Palutungan. Waktu telah semakin senja, angin dingin berhembus agak kencang, Tim memulai persiapan. Selepas maghrib, Tim mulai bergerak. Track tanah liat yang agak licin, menyusuri peladangan dan mengitari perbukitan.


Di sepanjang jalan, pohonnya besar dan tinggi. di sudut bawahnya kadang terlihat beberapa botol aqua yang berisi air berwarna kecoklatan, itu air seni! Memang terlihat jorok j
Di pos Gua Walet i
Jam 4 pagi Tim mulai berkemas. Pendakian ke puncak dilanjutkan untuk bisa menikmati sunrise. Dalam keremangan cahaya subuh, Pantai utara Jawa, jalur Pantura, menara PLTU Cirebon, dan gunung Slamet terlihat indah dikejauhan. Sekitar jam 6 pagi satu persatu anggota Tim Patrapala berhasil mencapai Puncak Gn. Ciremai diketinggian +3078 mdpl. Alhamdulillah!
Bibir puncak Ciremai tidaklah terlalu lebar, tidak lebih dari 1 meter, sehingga perlu kehati-hatian ketika menaikinya supaya tidak terpeleset ke dalam lubang kawah, namun demikian ada juga sisi lainnya yang agak lebar. Latar belakang gunung Slamet, bahkan gunung sindoro-sumbing, terlihat di sisi timur; sedangkan di sisi selatannya terlihat pegunungan Galunggung dan sekitarnya. Subhanallah indah sekali!
%231.jpg)
Sesuai rencana Tim Patrapala turun lewat jalur Linggar Jati, untuk mencapai jalur turun ini, terlebih dahulu harus menyusuri bibir kawah dari sisi selatan ke sisi timur gunung. Jalur Linggar Jati ini ternyata sangat terjal, track berupa tanah yang berpasir dan akar-akar pohon di sana sini dengan kemiringan lebih dari 45o. Sungguh kondisi yang cukup ekstrim dan di luar perkiraan. Jalur panjang yang seolah tak berujung, membuat agak frustasi juga. Menurut saya, kurang recommended untuk pendaki pemula. Beban rangsel dan tenda di punggung rasanya semakin berat saja padahal bekal air makanan sedikit demi sedikit telah berkurang. Hampir setiap ½ jam berhenti sejenak untuk istirahat.
Tim terpisah menjadi 3 bagian yang agak berjauhan; saya bertiga berada di tengah, sebagian besar masih di belakang. Saya baru bisa mencapai pos Linggar Jati jam 5 Sore dari rencana jam 2 siang!
Waktu telah menjelang maghrib, namun Tim yang masih di belakang yang berjumlah 13 orang belum juga tiba, kekhawatiran bertambah karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya yang disertai suara gemuruh kilat menyambar. Upaya bantuan pun dikirimkan, yang dari informasi penduduk, mereka telah berada di sekitar hutan pinus.
Kamis, 25 Maret 2010
PATRAPALA EKSPEDISI CILACAP WILAYAH BARAT
2 hari ini, harian kompas edisi Jateng mengulas tentang kabupaten Cilacap yang tahun ini genap berusia 154 tahun. Heading pada edisi senin tertulis “Layakkan Cilacap dimekarkan?” dan “Cilacap Barat, wilayah yang terpinggirkan”, sedangkan pada edisi Selasa tertulis “Pemekaran Cilacap, Gubernur: Tidak perlu perhatian khusus”, yang inti dari tulisan itu tentang sikap pro dan kontra terhadap pemekaran dengan masing-masing argumentasinya.
Dikotomi “Cilacap Barat” dan “Cilacap Timur” sebenarnya terasa kurang nyaman didengar, namun demikian kegelisahan tersebut patut untuk dipahami, setidaknya sebagai renungan, sudahkah kita mengenal lebih dekat lingkungan kita sendiri?. Ya kita harus mengakui bahwa lebih mengenal Baturraden-Purwokerto, Owabong-Purbalingga, Bandung, atau Yogyakarta, daripada Majenang, Wanareja, Sidareja, Dayeuh Luhur, dan Cipari, yang biasanya hanya dilewati saat malam hari ketika berangkat ke atau pulang dari Bandung/Jakarta.
Dalam rangka memperingati HUT Cilacap ini, pada hari Minggu kemarin Tim Patrapala mengadakan Cilacap Cross Country ber sepeda motor ria ke wilayah Majenang dan sekitarnya. Rencana semula akan melihat Curug Bandung di Majenang, Situs kerajaan Galuh, Puncak Sunset Dayeuh Luhur, dan Curug Air Panas Cipari, namun karena keterbatasan waktu, akhirnya hanya curug Bandung dan Air Panas Cipari yang dapat dikunjungi.
Perjalanan ini dimulai dari Cilacap minggu pagi hari, menyusuri perbukitan Jeruk Legi ke arah Kawunganten dan Gandrung Mangu hingga pertigaan terus belok kanan ke arah Karang Pucung. Di sepanjang jalan, kita harus pandai mengatur kecepatan dan memilih jalur karena beberapa ruas jalan yang rusak parah dan berlubang. Setelah Karang Pucung hingga Majenang jalan relatif agak baik. Pada pertigaan ke 2 setelah alun-alun Majenang, ada tugu, belok ke kanan mengikuti jalan yang berbelok ke kiri masuk desa Salebu, terus saja hingga bertemu pasar desa Limbangan. Dari pasar ini ada belokan ke kanan yang menuju lokasi Curug Bandung.
Curug Bandung – Majenang
Dari pasar limbangan, jalan menuju curug mulai naik, sesekali turun, kondisi jalannya beraspal seadanya semakin jauh semakin kurang bagus hingga tinggal susunan batu yang tak beraturan bercampur tanah merah, licin ketika hujan. Di tengah hutan pinus terdapat beberapa rumah penduduk yang sepertinya rumah terakhir yang bisa dijumpai, motor biasa sudah tidak bisa / tidak layak lagi untuk dikendarai kecuali oleh mereka yang ‘agak nekat’; atau motor trail yang umumnya digunakan penduduk mengangkut potongan kayu albiso.
Dari tempat itu, jalan kaki menuruni punggung bukit, yang diselingi tanaman kopi dan perdu hutan, agak menurun mulai terlihat persawahan dengan tanaman padi yang telah bernas, gubuk petani dan batu besar ditengahnya, sungai kecil yang airnya mengalir jernih, latar belakang tebing yang tinggi keliling, menciptakan suasana tenang dan natural serasa di dunia lain, nggak nyangka ternyata kabupaten Cilacap juga punya panorama perbukitan yang cukup indah ini. Suara gemerincik air curug Bandung mulai terdengar
Ketinggiannya sekitar 25 meter.Hujan deras mengguyur ketika kami meninggalkan curug Bandung. Sebenarnya masih ada lagi 2-3 curug di sekitar itu yang kata pemangku hutan lebih besar dan lebih bagus, namun karena kondisi jalan dan waktu yang tidak memungkinkan Tim memutuskan untuk turun kembali melalui jalan yang licin karena hujan. Motor terpaksa dituntun karena takut terjatuh.
Pemandian air panas-Cipari
Dari pasar limbangan-Majenang perjalanan dilanjutkan ke arah Wanareja, melewati hutan-hutan pinus. Jalannya cukup bagus, tidak lama sudah sampai di pertigaan jalan raya Propinsi, kalau ke kanan ke arah Jawa Barat, sedangkan ke kiri ke arah Purwokerto. Karena waktu yang tidak memungkinkan, Tim memutuskan tidak mengunjungi puncak sunset Dayueh Luhur dan belok ke kiri kembali ke arah Cilacap lewat jalur Cipari. Hujan deras mengguyur selama perjalanan. Tidak jauh dari kota Cipari terdapat pemandian air panas, lokasinya sih biasa saja, karena terkesan kurang perawatan, namun air panasnya cukup bening dan terasa nyaman untuk menghilangkan kepenatan.
Cilacap Barat sebenarnya menyimpan banyak potensi alam yang belum tergali dan obyek wisata yang menarik, namun demikian kondisi masyarakat dan infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan perkembangannya yang agak lambat. Kerusakan hutan menjadi penyebab longsornya bukit-bukit seperti yang pernah terjadi di Negara Jati-Cimanggu tahun lalu dan banjir rutin tahunan di sekitar Sidareja. Pengembangan pembangkit listrik micro hidro layak dijajaki untuk pasokan listrik bagi masyarakat sekitar curug, yang saat ini masih mengandalkan lampu minyak tanah untuk penerangannya.
Pemekaran? ‘separuh jiwaku pergi’ kata Anang.
Cilacap Cross Country akan dilanjutkan untuk daerah pelosok Cilacap lainnya, namun tanggal 2-4 April 2010 nanti Tim Patrapala berencana akan mendaki puncak Gn Ciremai di Kuningan-Cirebon. Mohon doá restunya.
Salam patrapala
PENDAKIAN MERAPI
Tanggal 26 s/d 27 februari 2010 kita berlima ( Ureh giant, Yoyong djunian, Yuli, wahyu trimbile dan rasidi ) melakukan pendakian gunung merapi, bagi aku ini adalah pendakian merapi yang
Jam 4 pagi udah banyak pendaki yang lalu lalang tuk muncak, kita berlima akhirnya samapi pasar bubrah dan ketemu sama rachel perempuan inggris yang pinter bahasa indonesia. kita muncak bareng, jalan yang sangat sangat terjal, bebatuan yang labil, dan sangat menakutkan, dengan lelah akhirnya kita berlima muncak juga, disan puncak sudah ada erika dan robin ( Scotland ) teman rachel, ALLAHU AKBAR, begituindah alam ciptaanmu, akuk bersyukur banget bisa menikmati indahnya alam ini, BAGUS BANGET. foto foto dan akhirnya kita turun, sampai basecamp jam 12:00 siang. dan akhirnya GO.... to Cilacap dengan perasaan sengan dan bangga banget
Jumat, 23 Oktober 2009
Dia
yang siap menghempaskan mimpi-mimpi para pendaki
Senin, 19 Oktober 2009
Selasa, 14 Juli 2009
GEDE PANGRANGO ...(3 HABIS)
Tidur .... zzzzz ....... Dingin ..... brrrrrr...........
Jalur turun lewat gunung putri ini cukup curam, rimbun pepohonan terkesan sedikit lebih alami, lekuk akar pohon dan batang-batang pohon tua yang berlumut memberi sedikit kesan “angker”. Tersadar aku, ternyata syal warna pink ku sebagai simbol kelompok sudah tidak ada di pergelangan tanganku. Kucoba mengingat, membuka-buka kantong celanaku, tak ketemu. Wah .... bakal push up nih! ... ya ... di awal perjalanan ini, sebagai ketua tim saya menerapkan aturan syal kelompok tidak boleh hilang, jika hilang maka ... push up 20 kali. Ketika istirahat jam 12 siang, kulihat foto-foto di kamera ku. Pendakian ini, merupakan yang ke 5 setelah Gunung Slamet, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Sindoro. Kali ini, pak ketua JBN Sutjahyo tidak bisa ikut, demikian juga sang pendaki tulen Dwi Yanto S.N (AO) yang anaknya sedang sakit, dan ....Aji Sanggabar Agung yang sekarang pindah tugas ke Makasar. Walau jauh, saya yakin dalam dada beliau semua masih melekat warna kuning kebanggaan dan identitas PATRAPALA!
Bravo dan kompak selalu!

