Sabtu, 12 Juli 2008

Hari Lingkungan Hidup 2008







Tanggal 12 Juli 2008 kemarin, tim PATRAPALA ikut memeriahkan kegiatan penanaman 3500 buah bibit mangrove di kelurahan Kutawaru-Cilacap. Acara ini dihadiri oleh perwakilan Pemkab Cilacap, Internal UP-IV, Patrapala, Pramuka, dan masyarakat setempat. Alhamdulillah acara ini sukses.


Salam Patrapala

D I K by WALI


Dik, aku pinta kau akan s’lalu setia
Dik, aku mohon kau s’lalu menemani
Saat ku tengah terluka
Kala ku tengah gundah

Ku akan menjagamu
Di bangun dan tidurmu
Di semua mimpi dan nyatamu

Ku akan menjagamu
Tuk hidup dan matiku
Tak ingin, tak ingin kau rapuh

Dik, jangan engkau pergi tinggalkan aku oh…
Dik, ingin aku cinta dan cinta s’lalu
Saat kau tengah terluka
Kala kau tengah gundah

Kau akan menjagaku
Di bangun dan tidurku
Di semua mimpi dan nyataku

Kau akan menjagaku
Tuk hidup dan matiku
Tak ingin, tak ingin kau rapuh

Sabtu, 05 Juli 2008

Jejak langkah IV: Puncak Lawu


Akhirnya, tim ekspedisi Patrapala sukses mewujudkan harapan untuk mencapai puncak gn. Lawu (+3265 dpl) pada tanggal 29 Juni 2008 kemarin. Namun demikian, pendakian ini bukanlah tanpa halangan. Dengan jumlah total peserta 32 orang, dengan meniti jalur dari cemoro sewu yang relative amat menanjak, menyebabkan rombongan Patrapala sempat terpisah menjadi 3 kelompok yang berjauhan, padahal sarana komunikasi radio yang dimiliki hanya 2 buah masing-masing untuk rombongan yang paling depan dan yang paling belakang.

Jalur pendakian dari cemoro sewu ini relative tertata dengan susunan batu yang menyurusi tebing-tebing tegak yang membentuk susunan anak-anak tangga yang eksotik. Dan beberapa bagiannya telah dilengkapi hand rail yang terbuat dari pipa galvanize.

DINGIN BANGET!
Memasuki pos ke 3, ketika itu waktu telah larut malam, sekitar pukul 02.30 WIB, hawa dingin mulai terasa menusuk tulang. Dari informasi seminggu sebelumnya suhu dapat mencapai minus 2 derajat. Terlihat api unggun telah dinyalakan ditengah ruangan pos 3 itu, asapnya memenuhi ruangan pos yang ukurannya sekitar 2x3 meter beratap seng namun berdinding separuh itu.

Karena suhu udara yang teramat dingin, dan terasa semakin menusuk tulang kalau digunakan untuk duduk istirahat, maka sebanyak 21 orang yang fisiknya masih kuat memutuskan untuk melanjutkan pendakian terlebih dahulu, tim ini yang kemudian dapat mencapai puncak Argo Dumilah pada pagi hari sekitar jam 06.00 WIB. Tim yang tersisa melanjutkan pendakian ketika waktu menjelang subuh dan dapat mencapai puncak argo dalem sekitar pukul 09.00 WIB. Spanduk Pertamina Always There terbentang dengan latar belakang puncak Argo Dumilah.Walaupun puncak Argo Dumilah telah terlihat mata, namun karena waktu telah siang, dan kondisi fisik yang lelah maka tim ini memutuskan langsung turun melalui jalur Cemoro Kandang.

KAPOK LOMBOK
Jalur cemoro kandang relative datar, namun track ini berputar putar menuruni lereng bukit yang terjal, sehingga track ini terasa amat panjang dan membosankan. Ketika kondisi fisik yang amat lelah, wajar hati kecil seakan berkata “kapok deh!”, namun demikian tidak ada pilihan, there is no point to return, perjalanan harus tetap dilanjutkan dalam kondisi apapun. Jam 16.30 tim telah mencapai pos Cemoro Kandang. Terlihat tim patrapala yang telah datang terlebih dahulu di pos cemara kandang itu telah duduk dan rebahan di rerumputan menunggu kami.

Ekspedisi ini telah usai, dan dapat dikatakan sukses karena semua anggotanya telah berhasil mencapai puncak lawu dan kembali pos cemoro kandang dengan sehat wal afiat. Banyak hal yang dapat diceritakan. Tentulah ini merupakan kenangan yang tak terlupakan, apalagi bagi bang Aji SIK yang mengajak istri (eva) dan anak (aga), bang Agus dan anak (rian dan firman), bang Ristanto Heru dan anak (dika), bang Anggrono dan anak (hans) dan tentu saja saya juga yang ngajak istri dan 3 ponakan. Wah … asyik deh!. Mendaki lagi….. ok deh!. Tuh kan saya bilang apa….KAPOK LOMBOK! Ha...ha.

Minggu, 22 Juni 2008

Sebelum Cahaya (by Letto)


Ku teringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi
Engkau tempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta

Ingatkah engkau kepada
Embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada
Angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta

Rabu, 11 Juni 2008

BANGKIT 'lah Pertamina' (by Deddy Miswar)



Bangkit itu Susah…
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu Takut…
Takut untuk korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya
Bangkit itu Malu…
Malu menjadi benalu
Malu karena minta melulu

Bangkit itu Marah…
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu Mencuri…
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu Tidak ada…
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku…
Aku untuk Indonesia-ku

Minggu, 08 Juni 2008

Kepak Kuat Sayapmu



Bagai elang terbang
Kepak kuat sayapmu kasihku

menembus batas
Terbebas
dan biarkan kegelisahanmu terungkap
Agar mata hatimu kembali berkata
Tentang cinta yang terlupa

Kepak kuat sayapmu kasihku
jauh menembus ke dalam relung setiap hati

yang telah lama terdiam membeku
dan kehilangan makna
bahwa hidup adalah cipta
dan cinta

Cilacap, 8 Juni 2008

Sabtu, 07 Juni 2008

Jejak langkah III: Pesona Merapi



DAFTAR ANGGOTA TIM PATRAPALA EKSPEDISI PUNCAK MERAPI
2-3 FEBRUARI 2008

NO NAMA BAGIAN
1 ADI SRI PAMBUDI REN REL
2 AJI ATMOKO HUPMAS
3 AJI SANGGABAR SIK
4 AJI SETYADI REN REL
5 ANGGRONO RCPE
6 ANNISRUL WAQIE FAS ENJ
7 DWI YANTO SETYO NUGROHO LABORAT
8 EDY RISWANTO TERMINAL
9 HANS HERMANG RCPE
10 HERU SETIADI TELKOM
11 JBN SUTJAHJO FASUM
12 KOESDJARJO KEUANGAN
13 LULU LABORAT
14 MAHAR WIJOYO FASUM
15 RISTANTO HERU WIDODO SECURITY
16 SUPARNO FOC-II
17 TRIYONO SIK
18 YANUAR FASUM
19 YULI SIK
20 RASYIDI PEMANDU
21 DADEK PEMANDU
22 AGUS RAHARJO REN EKON



Alhamdulillah, Tim Patrapala tadi malam jam 19.30 WIB telah kembali ke rumah masing setelah melakukan ekpedisi Puncak Merapi tanggal 2 dan 3 februari kemarin. Ekpedisi ini diikuti 26 peserta termasuk 4 orang pemandu. Tim berangkat pada hari sabtu jam 10.30 menuju desa Selo-Boyolali. Tim sempat mampir dulu makan soto di stasiun Purworejo, sebelum akhirnya tiba di desa selo sekitar jam 16.30 yang saat itu hujan turun rintik-rintik. Sore itu suasana di pondokan pendaki masih terasa kosong. Hanya beberapa motor milik pendaki lain yang telah berangkat ke puncak sehari sebelumnya yang terlihat di parkir di dalam ruang pondokan itu. Sehingga tim Patrapala dapat agak leluasa menggunakan ruangan yang tersedia untuk menempatkan barang-barang dan istirahat secukupnya hingga menjelang tengah petang untuk memulai pendakian. Namun suasana yang ‘nyaman’ itu tidak berlangsung lama, karena menjelang malam tiba puluhan rombongan pendaki lain berdatangan antara lain dari mahasiswa UMS, SMA-1 Yogyakarta, dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi-UGM. Bisa ditebak ruangan itu kini menjadi terasa sempit apa lagi mereka datang umumnya menggunakan motor lengkap dengan helm dan jas hujan yang basah karena hujan. Dalam kondisi seperti itu, berbagi tempat merupakan perjanjian tak tertulis yang harus dijalankan. Namun demikian suasana pendakian malam minggu itu menjadi lebih semarak dengan kehadiran mereka. Selama menunggu waktu pendakian yang direncanakan jam 12 malam itu, dimanfaatkan untuk berkumpul membentuk pengurus formal Patrapala.

Saat pendakian hujan telah berhenti, namun langit tampak tidak terlalu cerah. Lampu-lampu senter menerangi langkah tim meniti jalur pendakian. Jalur yang menanjak tajam membuat nafas terasa tersengal, namun ini tidak menyurutkan semangat tim walaupun beberapa dari nya berusia di atas 50 tahun. Semakin tinggi mendaki, angin semakin kuat berhembus yang menyebabkan badan menggigil kedinginan. Namun demikian semakin tinggi mendaki pemandangan semakin indah. Di kejauhan terlihat terangnya lampu kota magelang, boyolali, dan solo, serta kerlip lampu rumah-rumah yang berada di punggung gunung merbabu. Bulan terlihat sabit walau langit tidak terlalu cerah.


Menjelang pagi sebagian tim telah tiba di pelataran puncak merapi yang dikenal sebagai pasar bubrah yang merupakan dataran lembah dengan susunan batu-batu yang berserakan di sana sini. Dari cerita pendaki-pendaki lainnya ditempat ini katanya sering terdengar suara-suara aneh, dari bunyi gamelan, kokok ayam, hingga tangis bayi. Tentang hal ini tidak mengherankan karena dalam mytologi jawa, antara pantai parang tritis dan parangkusumo, kraton yogya, dan merapi adalah rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.

Seperti umumnya gunung-gunung lain, di puncak Merapi juga terdapat tugu memorial untuk mengenang mereka-mereka yang meninggal di sana. Kalau melihat medannya yang terjal berbatu dan hembusan belerang yang sewaktu-waktu muncul, maka mendaki puncak merapi perlu berhitung dengan waktu agar tidak menemui hambatan yang tidak diinginkan. Bagaimanapun dari pelataran pasar bubrah, panorama puncak merapi dan puncak gunung merbabu di sisi yang lain nampak begitu mempesona tiada bandingnya.



Salam Patrapala