Senin, 23 Mei 2011

Touring & Camping Air Terjun Suradinangga






Cuaca cerah berawan saat kami berkumpul di Pos Security Gunung Simping waktu menunjukan pukul 13.00 wib, setelah cek ricek maka diputuskan pukul 13.30 kami diberangkatkan menuju Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen Ajibarang. Tidak mudah menuju ke wilayah itu, jalur Cilacap – Wangon sangat dirasakan menyulitkan bagi kendaraan roda 2 yang kami naiki, lobang besar serta batu-batu penutup lobang sangat menghambat pejalanan ini, tapi Alhamdulillah semua sampai basecamp Glempang dengan selamat tepat pukul 15.00 walau sempat diguyur hujan saat memasuki Kota Ajibarang.

Di tengah derasnya hujan, sambutan cukup hangat kami rasakan dari warga dan Pak Lurah setempat, kami disambut dengan pertandingan bulutangkis persahabatan antara warga dengan Patrapala. Sesaat sebelum dimulai pertandingan, Patrapala juga ikut berbagi dengan menyumbangkan sejumlah kaleng cat untuk memperindah gedung olahraga desa tersebut.
Pukul 17.30 sebagian anggota Patrapala yang tidak mengikuti pertandingan bulutangkis berangkat menuju camp, cuaca gerimis masih menyiram kami saat tiba di camp pukul 19.00 (± 700 mdpl), tidak cuma Patrapala yang ada di wilayah camp tersebut, ada 12 orang warga yang membantu kami membuka lahan untuk tempat mendirikan tenda, karena tempat camp yang kami tempati masih berupa hutan pinus yang sangat rimbun.

Pukul 20.00 semua anggota sudah naik camp dengan selamat.
Setelah semua tenda terpasang dan anggota sudah beristirahat, dimulailah acara pencarian slayer bagi calon anggota baru. Jumlah anggota baru saat itu adalah 6 orang dan kebetulan saja semua wanita. Pencarian slayer pun dimulai pukul 21.00 dengan 3 kelompok pemberangkatan, masing-masing kelompok ada 2 calon anggota baru yang wajib mendapatkan slayer ditempat yang sudah panitia tentukan. Hanya lampu senter (headlamp) dari calon anggota dan lampu obor di tiap-tiap pos yang telah disiapkan panitia untuk menerangi jalan mereka dihutan pinus itu.
Satu persatu mereka saling berlomba mencari keberadaan slayer yang sudah kami sembunyikan di pos terakhir (naik ± 200 meter dari lokasi camp), kebetulan saya kebagian mengawasi di pos paling akhir ini beserta satu rekan lagi. Ada kejadian lucu dari calon anggota baru saat mereka mencari slayer masing-masing, ada yang cuek dengan keadaan, ada pula yang mencari sambil ketakutan, semua itu kami lakukan demi mengasah mental mereka.

Saat saya membuat suara-suara lirih menyerupai binatang malam dengan maksud untuk menguji nyali dari calon peserta dari tempat persembunyian, justru saya dan rekan yang menemani saya dikejutkan dengan suara binatang malam yang sesungguhnya, kurang lebih 5 meter dari saya ada suara binatang yang saya duga sebagai babi hutan (celeng) atau kucing hutan, karena rimbunnya semak dihutan tersebut saya dan teman saya tidak dapat melihatnya dengan jelas, hanya pantulan sepasang mata dan semak yang sedikit bergoyang ketika binatang itu bergerak.
Alhamdulillah, binatang itu menjauh, saya dan teman saya kembali melanjutkan pemantauan pencarian slayer. Selang beberapa menit kami melihat banyak senter menuju lokasi kami, saya sempat berpikir kenapa peserta pencarian slayer bertambah banyak, setelah dekat barulah saya mengetahui kalau sejumlah sinar senter yang mendekat berasal dari 8-10 orang warga yang sedari sore membantu kami mendirikan lokasi perkemahan. Karena penasaran saya pun keluar dari lokasi persembunyian.

Setelah saya temui dan bertanya, mereka menjawab hanya ingin mengontrol hutan tempat kami beruji nyali mengambil slayer, namun rasa kecemasan diraut wajah dan lampu senter yang mereka arahkan keberbagai arah tidak bisa mengusir rasa penasaran saya, akhirnya saya pun menanyakan kembali “sejatine wonten menopo pak?” (sesungguhnya ada apa pak?)
Salah satu dari mereka yang paling depan mendekati saya dengan suara berlahan menjawab, “wonten macan teng inggil kemah, wau kepanggeh kalian kulo lan rencang-rencang, medhak amargi wontem mambu bakaran ayam saking kemahan” (ada harimau diatas perkemahan, tadi terlihat oleh saya dan teman-teman, harimau turun gunung karena mencium bau ayam yang dibakar teman-teman yang tidak mengikuti acara uji nyali mencari slayer). Saya pun sempat bengong dan syok karena terlintas kejadian beberapa menit yang lalu saya sempat melihat pantulan sepasang mata tak jauh dari tempat saya dan rekan saya bersembunyi, jangan-jangan?

Karena acara pencarian slayer belum selesai, maka saya meminta tolong pada warga tersebut untuk membantu mengamankan lokasi di sepanjang jalur pencarian, dan sekali lagi kami masih diberikan keselamatan sehingga tepak pukul 22.30 acara pencarian slayer bisa selesai tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan. Kami semua pun turun ke tempat camp.
Setelah acara ramah tamah dan makan malam dengan sajian lauk ayam bakar plus sambal kecap, mata pun tak bisa diajak begadang lagi, sekitar pukul 00.30 saya menuju tenda dan tidur, malam itu bulan bersinar terang.

Pukul 05.00 saya terbangun, dan mendengar teman-teman yang lain sudah sebagian bangun dan sedang bercengkrama menceritakan pengalamannya masing-masing. Menghirup udara sejuk diluar tidak saya sia-siakan, dengan kaos dan celana pendek saya pun keluar tenda, indahnya hidup ini, sejuk, tenang, nyaman, seandainyai bisa tiap hari bisa bertemu dengan udara sebersih ini.
Sarapan sudah, bersih-bersih diri juga sudah, brefing sejenak untuk pembagian tugas acara inti yaitu tracking ke air terjun Suryadinaga, kami dibagi menjadi 3 (tiga) team.
Team pertama bertugas membuat jalur dan mengamankan jalur menuju air terjun. Tali, bayonet, dan alat penunjang lainnya pun siap dibawa, Saya, Joko, Beni, Ike dan beberapa warga sebagai ujung tombak pengamanan lokasi menuju air terjun, tepat pukul 08.30 kami berangkat, perjalanan yang penuh perjuangan dengan banyaknya semak-semak yang harus kami koyak supaya teman-teman yang dibelakang bisa melalui dengan aman.

Team kedua adalah sebagian besar dari anggota yang menyusul ke air terjun setelah kelompok pertama berangkat, kira-kira pukul 09.00 mereka diberangkatkan.
Team ketiga adalah teman-teman yang tidak ikut ke air terjun, mereka bertugas mengawasi tenda dan memasak untuk teman-teman yang kembali dari air terjun.
Kembali ke team pertama, kami terus mendaki menyibak hutan pinus yang kami perkirakan berada diketinggian 1000 mdpl, nafas terasa memburu ketika tanjakan demi tanjakan kami lalui, 30 menit kami libas hutan pinus dengan nafas memburu dan perjalanan tracking sebenarnya baru dimulai, didepan kami terbentang pemandangan punggung pegunungan dengan kanan kiri jurang sedalam ratusan meter, jangan sampai kami terpeleset atau lengah dalam perjalanan ini, tanjakan demi tanjakan kami lalui. Ditengah perjalanan saya melihat patok beton bercat hitam putih, dan menurut warga yang bersama kami, itu adalah batas wilayah Ajibarang dengan Bumiayu, wooww.. perjalanan saya sudah melewati perbatasan kata saya dalam hati.

Kami masih terus menguak belantara semak dipunggung bukit ini, ranting-ranting serta daun-daun berduri tajam mencoba menggores langkah kaki kami, pacet-pacet bertebaran disepanjang jalur yang jarang dilewati manusia ini. Tiba tiba salah seorang warga yang posisinya paling depan menghentikan langkah, mengambil sebungkus rokok dan beberapa uberampe disakunya, saya sempat berpikir untuk istirahat karena perkiraan saya, orang tersebut ingin menghisap sebatang atau dua batang rokok, ternyata pikiran saya itu salah, orang tersebut menaruhnya diatas batu, tepat disebelah kanan jalan yang akan kami lalui, saya kembali bertanya “kok ses’e ditilar teng watu mriku pak, eman-eman tesih setunggal bungkus” (kok rokoknya ditinggal di batu besar itu pak, sayang lho masih utuh satu bungkus), yang ditanyapun menjawab “inggih mas, kangge sing baurekso” (iya mas buat yang punya tempat ini), saya pun hanya bisa mengangguk mencoba memberi kebenaran.

Masih terkagum-kagum dengan trek dan keindahan panorama punggung bukit ini, kembali saya dikejutkan dengan kata-kata salah satu warga yang ikut bersama team ini, “niki wonten jejak macan, kadose saweng nandai daerahe” (ini ada jejak harimau, kelihatanya untuk menandai daerahnya) sambil menunjul tanah dengan guratan-guratan bekas korekan binatang. Rasa penasaran saya kembali keluar, “ngertose saking pundi menawi niki jejak macan?” (tahu dari mana kalau ini jejak harimau?), warga tersebut pun menjelaskan dengan detai setiap guratan-guratan ditanah yang terlihat di tepian jalan itu. Kembali saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan warga tersebut.
Diketinggian ± 1800 mdpl kami tiba dipertigaan, menurut warga, jika kami berjalan terus kami akan tiba di Kaligua ± 1,5 jam dari pertigaan ini, berhubung tujuan kami adalah ke air terjun maka kami langsung ambil jalur kanan dan menuruni lereng bukit yang cukup terjal dan licin, dari kejauhan kami mendengar deru air yang semakin lama semakin keras bunyinya. Setelah turun ± 500 meter dari petigaan tadi, kami tiba di sungai glodogan, sungai dimana air terjun yang kami tuju berasal, saya pun melirik jam tangan saya, pukul 11.10 tertulis disana.

Saya langsung menceburkan diri untuk membasuh kaki sambil melihat apakah ada binatang pacet menempel dikaki saya, ternyata kaki saya bersih dari binatang yang membuat jijik sebagian orang itu. Karena team kedua sudah terdengar suaranya dari atas sana, maka kami bergegas menuju celah dimana suara air terjun itu berasal untuk memasang tali pengaman.
Deru air dan pekatnya percikan air yang menghantam dari ketinggian 70 meter itu menimbulkan kabut yang cukup unik, suara saya pun tak terdengar sempurna, saya harus berteriak untuk bisa berkomunikasi dengan teman-teman yang berada disebelah saya. Oh indahnya.
Sambil mengagumi karunia yang ada didepan mata, kami berpacu dengan derasnya arus yang dihasilkan dari air terjun ini, mas Joko mencoba menjajaki kedalaman air tapi terhempas oleh kuatnya arus, untunglah ada tali yang membuatnya kembali keposisi aman. Setelah tali terpasang, kami melihat team kedua sudah sampai disungai glodogan ini dan mereka segera bergabung dengan kami.
Satu persatu mereka meniti tali menuju celah tebing dimana air terjun itu bersembunyi, pakaian yang mereka pakaipun dipaksa basah oleh derasnya arus, akhirnya semua bisa menikmati air terjun si pemalu ini.

Rasa lelah setelah perjalanan menuju air terjun ini seolah sirna, terlihat digurat keceriaan diwajah mereka, tapi tunggu, ada pelangi disana. Hemm.. Paradiso.
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk kembali ke camp, belum puas rasanya saya bermain di air terjun ini, tapi karena terbatasnya waktu dan rasa dingin yang menyerang membuat saya harus beranjak dari sini. Satu persatu semua peserta kembali meniti tali, melewati lorong tebing dengan hati-hati, ada sedikit rasa tak rela untuk menjauh dari sini, dalam hati hanya bisa berkata, suatu saat jika tuhan mengijinkan saya pasti kesini lagi.

Pukul 14.30 kami semua tiba di camp, rasa lelah setelah menempuh perjalanan cukup ekstrim dan kepuasan menikmati keindahan air terjun Suryadinaga membaur menjadi satu, kami pun beristirahat sejenak sambil minum dan makan pisang goreng yang dibuat oleh team ketiga, membereskan peralatan dan menggulung tenda adalah pekerjaan selanjutnya.
15.00 kami bersiap turun, tapi hujan deras menghambat langkah kami untuk segera sampai di desa Glempang, jalan licin berbatu membuat kami lebih hati-hati dalam melangkah, tak jarang dari kami harus merasakan kerasnya batuan itu saat jatuh terpeleset.
Sesampainya diperkampungan, saya dikejutkan oleh salah seorang anggota baru yang kram perutnya, untunglah kesigapan teman-teman Patrapala dapat membantunya, memang dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kesiapan fisik yang lebih prima dari keadaan biasa, baju basah ketika berada di air terjun hingga perjalanan pulang menuju perkampungan membuat badan kedinginan, staminapun menurun drastis.

Alhamdulillah pukul 17.00 kami semua bisa berkumpul dengan selamat di base desa Glempang, hujan pun telah reda, setelah bersih-bersih diri dan berganti pakaian, kami menyantap hidangan yang disajikan oleh keluarga Pak yoyong dan warga tempat kami menitipkan kendaraan. Pukul 17.30 kami semua berpamitan dan segera menuju kota tercinta dengan kenangan tersendiri dimasing-masing ingatan.

Semoga pihak-pihak terkait dapat membantu meningkatkan taraf kehidupan warga sekitar dengan menjadikan Air Terjun Suryadinaga sebagai tempat pariwisata dan untuk menjaga kelestariannya.
Salam Patrapala.
by Mamas Adhi

Sabtu, 06 November 2010

EKSPEDISI RINJANI 15-24 OKTOBER 2010





Expedisi Rinjani 2010 oleh Patrapala sebenarnya telah direcanakan sejak Juni 2009 dengan target sampai puncak Gunung Rinjani (3.726 m dpl) pada tanggal 17 Agustus 2010, tetapi karena pada Juli – Agustus 2010 ada kegiatan TA Kilang II serta Puasa Ramadhan, maka setelah melalui koordinasi, korespodensi dan survey data lokasi Gn. Rinjani, maka Patrapala berkesimpulan siap untuk melakukan Expedisi Rinjani 2010 dengan target di puncak pada tanggal 20.10.2010.
Team Expedisi beranggotakan 7 orang anggota PATRAPALA yang terdiri dari :
1. Yuliusman – MPS
2. Ristanto Heru – Security
3. Suparno Dansus – LOC II
4. Anggrono – RPO
5. Hans – Mahasiswa (anak Anggrono)
6. Eko Priyono – LS IT
7. Dadek – Mitra Pertamina.
Pada tanggal 14 Oktober 2010, Team Patrapala beraudiensi dengan Manager General Affairs dan Manager Production I selaku Ketua BAPOR RU IV, dengan maksud untuk mohon dukungan moril tentang kelancaran pelaksanaan dan pencapaian tujuan Expedisi Rinjani ini.
Team berangkat dari Cilacap pada tanggal 15.10.2010 pagi, start dari Gunung Simping dengan menggunakan Travello menuju ke Yogyakarta. Dan setelah sholat Jum’at di Yogya, Team meluncur ke Mataram dengan menggunakan Bus Safari Dharma Raya dan tiba di Mataram tanggal 16.10.2010 jam 17.00 WITA.
Di Mataram, team menginap di rumah Bpk. Kol. (Purn) Partijo ex Dandim Sumbawa dan keesokan harinya tanggal 17.10.2010 jam 06.00 WITA dengan menggunakan mobil carteran, team langsung menuju ke Base Camp pendakian di Sembalun Lawang, disana ada rumah penginapan sebagai tempat para pendaki dapat mempersiapkan perbekalan untuk pendakian ke Puncak Rinjani dari sini.
Setelah registrasi di gerbang pendakian Sembalun dengan membayar Rp. 2.500/orang, tepat jam 10.00 WITA, team mulai jalan kaki dengan tujuan Pelawangan Sembalun (2.902 m dpl) ( 8 jam berjalan kaki) dengan jalur yang sangat mengesankan untuk trail wisata yaitu padang savanna yang luas dengan sapi-sapi gemuk sedang makan rumput yang berjumlah ribuan dan jalurnya berliku-liku. Diperjalanan ini kami bermandikan peluh oleh teriknya matahari yang menyengat.
Tetapi dalam perjalanan ini turun hujan deras yang disertai badai, maka ditengah perjalanan Team berlindung di POS I Sembalun dan tertahan selama 2,5 jam.
Setelah hujan reda, team meneruskan penjalanan dengan menggunakan Jas Hujan untuk sampai di POS III jam 21.00 WITA dan berkemah disana dengan tidur bergiliran, karena banyak monyet yang bertaring, babi hutan, anjing dan Srigala sekitar kemah yang menurut Porter sering mengobarik-abrik ransel perbekalan pendaki yang sedang berkemah.
Pagi harinya tanggal 18.10.2010, setelah sarapan sambil mata sedikit was-was karena banyak monyet yang juga ingin sarapan bareng dengan kita, team melanjutkan perjalanan dan tiba di Pelawangan Sembalun (2.902 m dpl) jam 11.00 WITA.
Sebelum sampai Pelawangan Sembalun ini, kami melewati tanjakan yang oleh pendaki sana di sebut "Tanjakan Penyesalan". Karena setiap kali menanjak akan terlihat ujung tanjakan, berarti tanjakan akan selesai. Tapi, ternyata ada tanjakan lagi, begitu terus berulang-ulang. Bagi yang tidak sabar pasti merasa kesal, makanya di sebut "Tanjakan Penyesalan".
Tiba di Pelawangan Sembalun, setelah menanggalkan beban ransel yang berat, logistic berikut tenda, dengan membawa bekal air secukupnya, team bersama turis manca negara lainnya (Perancis, Ukrania, Belanda dan Kanada) langsung menunju ke Puncak Rinjani yang normalnya dapat ditempuh selama 3 jam.
Pemandangan sepanjang jalan menuju puncak bagus sekali, di sebalah kiri kita bisa menyaksikan Desa Sembalun Lawang, dan di sebelah kanan Danau Segara Anak yang ditengahnya ada anak Gn. Rinjani yang di sebut Gunung Barujari (2.376 m dpl)
Tetapi diperjalanan ke puncak ini, kami terkendala cuaca buruk, kabut yang sangat tebal dengan jarak pandang yang terbatas serta ada anggota team yang kram kakinya, maka diputuskan team kembali ke Pelawangan Sembalun untuk berkemah sambil mengatur strategi pendakian ke Puncak Rinjani.
Pada tanggal 19.10.2010 dini hari, diputuskan team dibagi dua :
Team I berjumlah 5 orang Patrapala dan turis asing berangkat menuju Puncak dan
Team II berjumlah 2 orang Patrapala turis lainnya standby di kemah sambil mempersiapkan sarapan, packaging tenda serta mengahalau hewan liar disekitar kemah.
Tepat jam 02.30 WITA, Team I mulai melakukan pendakian melewati jalan berbatu dan kerikil, jadi kami harus extra hati hati, bisa-bisa tergelincir karena sepanjang jalan disebelah kanan-kiri curam. Kemudian ketemu jalur berpasir dengan istilah tersendiri yaitu dengan sebutan three off one yaitu tiga langkah naik, kemudian 1 langkah melorot kebawah, karena pasirnya bercampur kerikil yang halus sehingga kalau jejak kaki kurang kuat, maka kaki akan melorot kebawah dan sepatu sering kemasukan pasir.
Dengan perjuangan yang berat, akhirnya tepat jam 06.00 WITA team sampai di Puncak Gunung Rinjani dengan mengibarkan bendera Merah Putih, PERTAMINA dan PATRAPALA sambil memandang indahnya selat Alas, Gunung Agung Bali dan Pulau Sumbawa dari kejauhan (sambil ber-photo-photo tentunya)
Setelah beristirahat sejenak sembari berphoto kayak model/artis, dengan menikmati panorama alam dan berbangga diri telah menginjakkan kaki disalah satu kaki langit tertinggi no 3 di Indonesia ini, serta menimbulkan rasa kekaguman akan ciptaan Tuhan, dengan semakin teriknya matahari, dan dirasa cukup puas, team langsung turun menuju perkemahan di Pelawangan Sembalun dan bersuka cita dengan team II sambil dengan lahapnya menyantap sarapan pagi yang tertunda......(to be continued)
Setelah beristirahat sebentar di Pelawangan Sembalum. sekitar jam 11.30 WITA, Team Patrapala melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Segara Anak (2.010 m dpl) yang ditempuh dengan waktu normal selama 3 jam dengan kondisi jalan turunan berbatu, terjal dan curam dan perlu extra hati-hati, Kalau perlu merambat dan merangkak untuk sampai ke bawah. Kadang harus berpegangan pada akar-akar yang menjuntai di bibir tebing agar tak terjatuh. Terus terang kami hanya geleng kepala melihat rute yang curam. Semoga saja tak memakan korban jiwa.
Perlu diketahui air Danau Segara Anak yang biru ini banyak mengandung belerang, jadi tidak enak untuk diminum, tapi di danau ini banyak sekali ikannya (ikan Mujair dan ikan Harper). Bibit ikan ini sengaja ditebarkan di sana dan sekarang ikannya cukup besar-besar. Banyak pendaki serta turis yang memancing dan mandi di danau yang tenang ini, sungguh sangat mengasyikan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan.
Team tiba di Danau Segara Anak pada jam 15.00 WITA, dan Porter langsung bergerak dengan mendirikan tenda serta masak air panas untuk buat kopi, anggota team lainnya mempersiapkan alat pancing dan mandi sepuas-puasnya (2 hari tidak mandi….bau? Nggak juga….udah biasa.) sambil memandang gunung Barujari di tengah danau yang tahun lalu sempat batuk sambil menyemburkan larvanya. Di sekitar Danau kita juga dapat melihat beberapa buah gua dengan sumber-sumber air belerang yang biasanya digunakan masyarakat untuk mencuci senjata-senjata pusaka seperti keris, tombak dan kelewang.
Pada saat Team Patrapala berada di Danau Segara Anak ini, juga sedang berlangsung upacara keagamaan umat Hindu yaitu sembahyangan pada bulan Purnama untuk menghormati Dewi Anjani yaitu Ratu jin penguasa Gunung Rinjani yang berparas cantik keturunan Raja Selaparang yang konon lahir dari perkawinan suku Sasak dan Jin, yaitu dengan berdo’a dan melarungkan ikan mas ke tengah danau (maksudnya emas tipis berbentuk ikan-ikanan..kalo ada yang mau menyelam untuk ambil….coba aja, karena selain dalamnya sekitar 200 m..…airnya dingiiiinnnn).
Dan malamnya, sambil sesekali mendengarkan pujian-pujian dari umat Hindu yang sedang berdo’a, di sudut danau lainnya kami menyalakan api unggun, bersenda gurau dan membicarakan skenario perjalanan esok hari sambil menyantap ikan hasil pancingan dengan diterangi bulan yang hampir penuh purnamanya. Dan tanpa terasa malam semakin larut, satu-persatu kami masuk tenda untuk mulai lomba “suara gergaji” antar peserta.
Pada tanggal 20.10.2010, setelah sarapan dan puas berphoto-photo dengan berbagai pose, jam 08.00 WITA, Team melanjutkan perjalanan menuju Base Camp Senaru yang normalnya ditempuh selama 12 jam berjalan kaki.
Kemudian dari Danau Segara Anak (2.010 m dpl), team selanjutnya mulai berjalan lagi dengan mendaki Gunung Senkereang Jaya (2.902 m dpl) dengan jalur yang sangat terjal dan curam dengan sesekali merayap dinding gunung hingga sampai di Pelawangan Senaru (2.641 m dpl) jam 11.00 WITA untuk beristirahat sejenak di POS CEMARA sambil mengawasi tingkah polah monyet dan anjing disana serta mengambil air minum dimata air dekat pos untuk bekal perjalanan selanjutnya.
Pada saat menuruni Gunung Senkereang Jaya di POS III Senaru, kami bertemu turis dari Belgia yang berprofesi sebagai lawyer dan beberapa turis manca negara lainnya dalam kondisi cuaca hujan lebat yang mengguyur perjalanan kami. Dan setelah berdiskusi, Team yang terbagi dua tetap melanjutkan pejalanan dengan mengenakan Jas Hujan sampai di POS II Senaru dan mengambil air minum dialiran sungai dekat POS II (airnya bersih, alami dan segeeeeer)
Dalam perjalanan dari POS II menuju Base Camp Senaru ini, bulu kuduk team sempat merinding dan kaki terasa berat untuk melangkah, karena selain sudah agak gelap juga banyak pohon besar yang bertumbangan dengan posisi yang tidak lazim dengan akar-akar yang besar dan suara-suara hewan liar diperjalanan yang membuat kami terkaget-kaget (Alhamdulillah….nggak ada penampakan hanya suara-suara yang………..???), namun kami terus berzikir sambil mengingat Asma Allah SWT, dan akhirnya tepat jam 19.00 WITA sampailah team kami di Gerbang Senaru Jebak Gawah (disini ada warung yang jual minuman dan teh hangat…legaaaa sekali) dan setelah selesai minum teh hangat, badan kami terasa segaaaaar dan memacu semangat baru (tadinya kuyuuu banget), team melanjutkan lagi berjalan kaki selama 1½ jam hingga sampai di Base Camp Senaru untuk beristirahat disana sambil menunggu kedatangan anggota team lainnya untuk berbagi cerita selama perjalanan.
Expedisi Rinjani yang merupakan Gunung no 3 tertinggi di Indonseia ini merupakan perjalanan yang tak terlupakan bagi team Patrapala dan oleh pendaki lainnya dikatakan bahwa pendakian Gunung Rinjani adalah five star trekking (pendakian bintang lima) dengan jalur pendakian yang sangat menantang adrenalin dan mental kami sebagai pencinta alam.
Banyak cerita yang didapat dalam perjalanan ini, baik cerita yang seram, lucu, kesal, capek maupun senang yang akan kami tuangkan dalam bentuk photo-photo (sebentar lagi diupload di SIMOPS) dan akan menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk perbaikan /penyempurnaan misi program selanjutnya.
Dan pada kesempatan ini juga, saya mewakili team Expedisi Rinjani 2010 – PATRAPALA mengucapkan terima kasih ke GM RU IV, Manager General Affair dan Ketua BAPOR RU IV yang telah memberikan dukungan moril dan fasilitas hingga tercapainya tujuan misi Expedisi Rinjani ini.
Untuk rekan lainnya, jika ada yang berkeinginan untuk mendaki Gunung Rinjani, disarankan agar dari jauh hari dapat mempersiapkan perencanaan dengan matang, baik fisik, financial dan mental yang kuat.
Bravo Patrapala…Go There
www.patrapala.blogspot.com

Selasa, 12 Oktober 2010

Cerita pendakian ke Gn Sumbing awal bulan Agustus 2010 mana?

teman-teman, mana cerita pendakian ke gn sumbing awal bulan agustus kemarin?

Jumat, 09 April 2010

PATRAPALA EKSPEDISI GN.CIREMAI 2-4 APRIL 2010

Tanggal 2-4 April 2010 kemarin Patrapala telah melakukan pendakian ke puncak Gn Ciremai +3078 mdpl di kabupaten Kuningan. Walaupun rencana pendakian ini sudah diumumkan sejak sebulan lalu lewat jalur FB, namun persiapan pendakian ini terbilang agak mendadak, karena 2 minggu sebelum nya, Patrapala juga melaksanakan Cilacap Cross Country di daerah Majenang.

Isu penting yang menjadi pertimbang dalam rencana pendakian ini adalah masalah kelangkaan air dan jalur pendakian. Tim harus membawa lebih banyak air dari sejak awal pendakian. Patrapala memilih jalur Palutungan sebagai start pendakian karena jalur ini adalah rute yang paling umum dilalui dan aman, sedangkan rute pulang memilih jalur Linggar Jati. Isu lain yang menjadi perhatian juga adalah seram nya cerita-cerita seputar Gn Ciremai. Dibanding Gn Slamet memang Gn Ciremai suasana mistisnya terasa lebih kental, kata seorang teman.

Tim Patrapala yang berjumlah 20 orang berangkat dari Cilacap ke Kuningan hari Jumát sekitar jam 10 pagi, sedangkan saya berangkat nya dari Terminal Lebak Bulus jam 06.30, karena hari kamis nya masih dinas di Jakarta. Saya telah tiba lebih dulu di terminal Cirendang – Kuningan sekitar jam 13.30, sedangkan Tim yang dari Cilacap baru tiba jam 16.00.

Dari pertigaan Cirendang jalan menanjak menuju desa Cigugur dimana terdapat pos pendakian Palutungan. Waktu telah semakin senja, angin dingin berhembus agak kencang, Tim memulai persiapan. Selepas maghrib, Tim mulai bergerak. Track tanah liat yang agak licin, menyusuri peladangan dan mengitari perbukitan.

Perjalanan telah lebih dari 2 jam ketika Tim tiba di pos Cigowong dan bermalam. Nasi hangat dan pepes ikan peda terasa begitu nikmat. Cuaca masih cerah saat itu, bintang-bintang terlihat gemerlap, dan udara tidaklah terlalu dingin, namun karena letih akibat perjalanan yang panjang, maka lebih nyaman membenamkan diri saja dalam tenda.

Hujan cukup deras terdengar di tengah malam, angin berhembus kencang menggoyang-goyang pucuk ranting-ranting pepohonan, menimbulkan suara gemerisik yang seolah hujan tak juga kunjung reda.
Sabtu pagi hari, kesibukan mulai terdengar, persiapan pendakianpun telah dimulai. Di pos Cigowong ini, air masih tersedia, mengalir dari sungai kecil. Jam 8 pagi Tim memulai pendakian ke puncak Ciremai. Jalur yang dilalui berupa tanah liat yang sedikit berpasir, akar-akar pohonan tak beraturan melintang jalur. Daun-daun ilalang yang tinggi-tinggi agak menutupi jalan, terasa tajam menggores siku tangan.

Di sepanjang jalan, pohonnya besar dan tinggi. di sudut bawahnya kadang terlihat beberapa botol aqua yang berisi air berwarna kecoklatan, itu air seni! Memang terlihat jorok jadinya, namun hal ini karena adanya cerita-cerita seram yang berkembang ketika pendaki kencing sembarangan. Namun demikian, Tim tidak melakukan hal yang sama, cukup berdoa sebelum buang hajat dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa.

Setelah penjalanan hampir 8 jam vegetasi puncak mulai terlihat, pohon edelwies bergoyang-goyang tertiup angin yang cukup kencang. Jalanan mulai berbatu, Di kejauhan terlihat hamparan perbukitan dan pemandangan kota Kuningan dan sekitarnya. Tak lama sekitar jam 16.00, akhirnya Tim tiba di pos Goa Walet pada ketinggian 2.925 mdpl. Suatu cekungan yang agak luas yang terdapat gua dengan diameter cukup besar di sudut timur nya. Lokasi ini sangat aman untuk mendirikan tenda karena cukup terlindung dari kemungkinan hembusan angin atau badai secara langsung.

Di pos Gua Walet ini, yang ada hanya tetesan air yang jatuh dari atas batu gua. Semakin malam rombongan pendaki lainnya terdengar berdatangan dan sibuk mendirikan tenda di ruang-ruang yang masih tersisa, sebagiannya lagi sibuk memasak perbekalan masing-masing. Udara malam cukup dingin saat itu, langit bertabur bintang dan bulan agak terang.

Jam 4 pagi Tim mulai berkemas. Pendakian ke puncak dilanjutkan untuk bisa menikmati sunrise. Dalam keremangan cahaya subuh, Pantai utara Jawa, jalur Pantura, menara PLTU Cirebon, dan gunung Slamet terlihat indah dikejauhan. Sekitar jam 6 pagi satu persatu anggota Tim Patrapala berhasil mencapai Puncak Gn. Ciremai diketinggian +3078 mdpl. Alhamdulillah!

Bibir puncak Ciremai tidaklah terlalu lebar, tidak lebih dari 1 meter, sehingga perlu kehati-hatian ketika menaikinya supaya tidak terpeleset ke dalam lubang kawah, namun demikian ada juga sisi lainnya yang agak lebar. Latar belakang gunung Slamet, bahkan gunung sindoro-sumbing, terlihat di sisi timur; sedangkan di sisi selatannya terlihat pegunungan Galunggung dan sekitarnya. Subhanallah indah sekali!















Jalur Linggar jati.
Sesuai rencana Tim Patrapala turun lewat jalur Linggar Jati, untuk mencapai jalur turun ini, terlebih dahulu harus menyusuri bibir kawah dari sisi selatan ke sisi timur gunung. Jalur Linggar Jati ini ternyata sangat terjal, track berupa tanah yang berpasir dan akar-akar pohon di sana sini dengan kemiringan lebih dari 45o. Sungguh kondisi yang cukup ekstrim dan di luar perkiraan. Jalur panjang yang seolah tak berujung, membuat agak frustasi juga. Menurut saya, kurang recommended untuk pendaki pemula. Beban rangsel dan tenda di punggung rasanya semakin berat saja padahal bekal air makanan sedikit demi sedikit telah berkurang. Hampir setiap ½ jam berhenti sejenak untuk istirahat.

Tim terpisah menjadi 3 bagian yang agak berjauhan; saya bertiga berada di tengah, sebagian besar masih di belakang. Saya baru bisa mencapai pos Linggar Jati jam 5 Sore dari rencana jam 2 siang!

Waktu telah menjelang maghrib, namun Tim yang masih di belakang yang berjumlah 13 orang belum juga tiba, kekhawatiran bertambah karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya yang disertai suara gemuruh kilat menyambar. Upaya bantuan pun dikirimkan, yang dari informasi penduduk, mereka telah berada di sekitar hutan pinus.

Alhamdulillah sekitar jam 19.00 semua rombongan yang terakhir telah tiba dengan selamat di pos Linggar Jati dalam kondisi kehujanan. 12 jam perjalanan sejak dari puncak! Banyak cerita terungkap, dari yang lutut kakinya bengkak karena terkilir, yang muntah karena kelelahan, yang sempat mendengar ‘suara-suara perempuan yang sedang bercakap-cakap’ dari dalam gubuk kosong di tengah hutan … hiii …, yang kesal karena merasa ditinggalkan. Ya inilah dinamika pecinta alam, ada senang, ada susah, ada pertengkaran, ada persahabatan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. suatu proses untuk pendewasaan. Menyatu dengan alam berarti membentuk harmoni, mencoba memahami lingkungan, memahami orang lain, dan memahami diri sendiri; dan ketika semua itu terangkai dalam kedamaian, alangkah indahnya..
Bravo patrapala .. nggak kapok kan ? Ok, go to next journey!

Kamis, 25 Maret 2010

PATRAPALA EKSPEDISI CILACAP WILAYAH BARAT




2 hari ini, harian kompas edisi Jateng mengulas tentang kabupaten Cilacap yang tahun ini genap berusia 154 tahun. Heading pada edisi senin tertulis “Layakkan Cilacap dimekarkan?” dan “Cilacap Barat, wilayah yang terpinggirkan”, sedangkan pada edisi Selasa tertulis “Pemekaran Cilacap, Gubernur: Tidak perlu perhatian khusus”, yang inti dari tulisan itu tentang sikap pro dan kontra terhadap pemekaran dengan masing-masing argumentasinya.

Dikotomi “Cilacap Barat” dan “Cilacap Timur” sebenarnya terasa kurang nyaman didengar, namun demikian kegelisahan tersebut patut untuk dipahami, setidaknya sebagai renungan, sudahkah kita mengenal lebih dekat lingkungan kita sendiri?. Ya kita harus mengakui bahwa lebih mengenal Baturraden-Purwokerto, Owabong-Purbalingga, Bandung, atau Yogyakarta, daripada Majenang, Wanareja, Sidareja, Dayeuh Luhur, dan Cipari, yang biasanya hanya dilewati saat malam hari ketika berangkat ke atau pulang dari Bandung/Jakarta.

Dalam rangka memperingati HUT Cilacap ini, pada hari Minggu kemarin Tim Patrapala mengadakan Cilacap Cross Country  ber sepeda motor ria ke wilayah Majenang dan sekitarnya. Rencana semula akan melihat Curug Bandung di Majenang, Situs kerajaan Galuh, Puncak Sunset Dayeuh Luhur, dan Curug Air Panas Cipari, namun karena keterbatasan waktu, akhirnya hanya curug Bandung dan Air Panas Cipari yang dapat dikunjungi.

Perjalanan ini dimulai dari Cilacap minggu pagi hari, menyusuri perbukitan Jeruk Legi ke arah Kawunganten dan Gandrung Mangu hingga pertigaan terus belok kanan ke arah Karang Pucung. Di sepanjang jalan, kita harus pandai mengatur kecepatan dan memilih jalur karena beberapa ruas jalan yang rusak parah dan berlubang. Setelah Karang Pucung hingga Majenang jalan relatif agak baik. Pada pertigaan ke 2 setelah alun-alun Majenang, ada tugu, belok ke kanan mengikuti jalan yang berbelok ke kiri masuk desa Salebu, terus saja hingga bertemu pasar desa Limbangan. Dari pasar ini ada belokan ke kanan yang menuju lokasi Curug Bandung.

Curug Bandung – Majenang

Dari pasar limbangan, jalan menuju curug mulai naik, sesekali turun, kondisi jalannya beraspal seadanya semakin jauh semakin kurang bagus hingga tinggal susunan batu yang tak beraturan bercampur tanah merah, licin ketika hujan. Di tengah hutan pinus terdapat beberapa rumah penduduk yang sepertinya rumah terakhir yang bisa dijumpai, motor biasa sudah tidak bisa / tidak layak lagi untuk dikendarai kecuali oleh mereka yang ‘agak nekat’; atau motor trail yang umumnya digunakan penduduk mengangkut potongan kayu albiso.

Dari tempat itu, jalan kaki menuruni punggung bukit, yang diselingi tanaman kopi dan perdu hutan, agak menurun mulai terlihat persawahan dengan tanaman padi yang telah bernas, gubuk petani dan batu besar ditengahnya, sungai kecil yang airnya mengalir jernih, latar belakang tebing yang tinggi keliling, menciptakan suasana tenang dan natural serasa di dunia lain, nggak nyangka ternyata kabupaten Cilacap juga punya panorama perbukitan yang cukup indah ini.  Suara gemerincik air curug Bandung mulai terdengar

, dikejauhan terlihat air curug lokasinya yang agak tersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan. Air nya cukup deras, terdapat dua curug yang berdampingan, yang disebelah kiri agak besar.

Ketinggiannya sekitar 25 meter.Hujan deras mengguyur ketika kami meninggalkan curug Bandung. Sebenarnya masih ada lagi 2-3 curug di sekitar itu yang kata pemangku hutan lebih besar dan lebih bagus, namun karena kondisi jalan dan waktu yang tidak memungkinkan Tim memutuskan untuk turun kembali melalui jalan yang licin karena hujan. Motor terpaksa dituntun karena takut terjatuh.


Pemandian air panas-Cipari

Dari pasar limbangan-Majenang perjalanan dilanjutkan ke arah Wanareja, melewati hutan-hutan pinus. Jalannya cukup bagus, tidak lama sudah sampai di pertigaan jalan raya Propinsi, kalau ke kanan ke arah Jawa Barat, sedangkan ke kiri ke arah Purwokerto. Karena waktu yang tidak memungkinkan, Tim memutuskan tidak mengunjungi puncak sunset Dayueh Luhur dan belok ke kiri kembali ke arah Cilacap lewat jalur Cipari. Hujan deras mengguyur selama perjalanan. Tidak jauh dari kota Cipari terdapat pemandian air panas, lokasinya sih biasa saja, karena terkesan kurang perawatan, namun air panasnya cukup bening dan terasa nyaman untuk menghilangkan kepenatan.

Cilacap Barat sebenarnya menyimpan banyak potensi alam yang belum tergali dan obyek wisata yang menarik, namun demikian kondisi masyarakat dan infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan perkembangannya yang agak lambat. Kerusakan hutan menjadi penyebab longsornya bukit-bukit seperti yang pernah terjadi di Negara Jati-Cimanggu tahun lalu dan banjir rutin tahunan di sekitar Sidareja. Pengembangan pembangkit listrik micro hidro layak dijajaki untuk pasokan listrik bagi masyarakat sekitar curug, yang saat ini masih mengandalkan lampu minyak tanah untuk penerangannya.

Pemekaran? ‘separuh jiwaku pergi’ kata Anang.

Cilacap Cross Country akan dilanjutkan untuk daerah pelosok Cilacap lainnya, namun tanggal 2-4 April 2010 nanti Tim Patrapala berencana akan mendaki puncak Gn Ciremai di Kuningan-Cirebon. Mohon doá restunya.

Salam patrapala



PENDAKIAN MERAPI






Tanggal 26 s/d 27 februari 2010 kita berlima ( Ureh giant, Yoyong djunian, Yuli, wahyu trimbile dan rasidi ) melakukan pendakian gunung merapi, bagi aku ini adalah pendakian merapi yang kedua, tapi yang pertama aku ga samapai puncak, hanya sampai di pasar bubrah aja, makanya ini adalah mitifasiku untuk sampai puncak merapi. berangkat hari jumat pagi jam 05:00 dari cilacap dan sampai di Basecamp new selo jam 10:30, istirahat sebentar, sholat jum'at dan kita persiapan pendikian packing ulang, jam 13:30 kita mulai pendakian, diperjalanan kita terhambat karna hujan yang cukup deras dan kilat dan petir yang menyambar nyambar, tapi tidak mengendorkan kita berlima tuk trus mendaki, diperjlanan kita ketemu dengan pendaki pendaki lain yang juga lagi kedinginan, badan sudah berat, beban berat ditambah hujan dan dingin banget, membuat aku agak tersendat, tapi akhirnya kita sampai juga di bawah pasar brubah temapt kita akan mendirikan tenda, setelah pasang tenda selesai kita menikmati sunset yang sangat bagus banget, ga semua orang bisa liat pemandangan sebagus ini, magrib trus kita masak masak medang bareng, ngobrol bareng ditemeni cahaya bulan pernama yang bersinar terang, asyik banget pokoknya. kita tidur istirhat tuk muncak besok subuh.
Jam 4 pagi udah banyak pendaki yang lalu lalang tuk muncak, kita berlima akhirnya samapi pasar bubrah dan ketemu sama rachel perempuan inggris yang pinter bahasa indonesia. kita muncak bareng, jalan yang sangat sangat terjal, bebatuan yang labil, dan sangat menakutkan, dengan lelah akhirnya kita berlima muncak juga, disan puncak sudah ada erika dan robin ( Scotland ) teman rachel, ALLAHU AKBAR, begituindah alam ciptaanmu, akuk bersyukur banget bisa menikmati indahnya alam ini, BAGUS BANGET. foto foto dan akhirnya kita turun, sampai basecamp jam 12:00 siang. dan akhirnya GO.... to Cilacap dengan perasaan sengan dan bangga banget