Senin, 23 Mei 2011

Touring & Camping Air Terjun Suradinangga






Cuaca cerah berawan saat kami berkumpul di Pos Security Gunung Simping waktu menunjukan pukul 13.00 wib, setelah cek ricek maka diputuskan pukul 13.30 kami diberangkatkan menuju Desa Glempang, Kecamatan Pekuncen Ajibarang. Tidak mudah menuju ke wilayah itu, jalur Cilacap – Wangon sangat dirasakan menyulitkan bagi kendaraan roda 2 yang kami naiki, lobang besar serta batu-batu penutup lobang sangat menghambat pejalanan ini, tapi Alhamdulillah semua sampai basecamp Glempang dengan selamat tepat pukul 15.00 walau sempat diguyur hujan saat memasuki Kota Ajibarang.

Di tengah derasnya hujan, sambutan cukup hangat kami rasakan dari warga dan Pak Lurah setempat, kami disambut dengan pertandingan bulutangkis persahabatan antara warga dengan Patrapala. Sesaat sebelum dimulai pertandingan, Patrapala juga ikut berbagi dengan menyumbangkan sejumlah kaleng cat untuk memperindah gedung olahraga desa tersebut.
Pukul 17.30 sebagian anggota Patrapala yang tidak mengikuti pertandingan bulutangkis berangkat menuju camp, cuaca gerimis masih menyiram kami saat tiba di camp pukul 19.00 (± 700 mdpl), tidak cuma Patrapala yang ada di wilayah camp tersebut, ada 12 orang warga yang membantu kami membuka lahan untuk tempat mendirikan tenda, karena tempat camp yang kami tempati masih berupa hutan pinus yang sangat rimbun.

Pukul 20.00 semua anggota sudah naik camp dengan selamat.
Setelah semua tenda terpasang dan anggota sudah beristirahat, dimulailah acara pencarian slayer bagi calon anggota baru. Jumlah anggota baru saat itu adalah 6 orang dan kebetulan saja semua wanita. Pencarian slayer pun dimulai pukul 21.00 dengan 3 kelompok pemberangkatan, masing-masing kelompok ada 2 calon anggota baru yang wajib mendapatkan slayer ditempat yang sudah panitia tentukan. Hanya lampu senter (headlamp) dari calon anggota dan lampu obor di tiap-tiap pos yang telah disiapkan panitia untuk menerangi jalan mereka dihutan pinus itu.
Satu persatu mereka saling berlomba mencari keberadaan slayer yang sudah kami sembunyikan di pos terakhir (naik ± 200 meter dari lokasi camp), kebetulan saya kebagian mengawasi di pos paling akhir ini beserta satu rekan lagi. Ada kejadian lucu dari calon anggota baru saat mereka mencari slayer masing-masing, ada yang cuek dengan keadaan, ada pula yang mencari sambil ketakutan, semua itu kami lakukan demi mengasah mental mereka.

Saat saya membuat suara-suara lirih menyerupai binatang malam dengan maksud untuk menguji nyali dari calon peserta dari tempat persembunyian, justru saya dan rekan yang menemani saya dikejutkan dengan suara binatang malam yang sesungguhnya, kurang lebih 5 meter dari saya ada suara binatang yang saya duga sebagai babi hutan (celeng) atau kucing hutan, karena rimbunnya semak dihutan tersebut saya dan teman saya tidak dapat melihatnya dengan jelas, hanya pantulan sepasang mata dan semak yang sedikit bergoyang ketika binatang itu bergerak.
Alhamdulillah, binatang itu menjauh, saya dan teman saya kembali melanjutkan pemantauan pencarian slayer. Selang beberapa menit kami melihat banyak senter menuju lokasi kami, saya sempat berpikir kenapa peserta pencarian slayer bertambah banyak, setelah dekat barulah saya mengetahui kalau sejumlah sinar senter yang mendekat berasal dari 8-10 orang warga yang sedari sore membantu kami mendirikan lokasi perkemahan. Karena penasaran saya pun keluar dari lokasi persembunyian.

Setelah saya temui dan bertanya, mereka menjawab hanya ingin mengontrol hutan tempat kami beruji nyali mengambil slayer, namun rasa kecemasan diraut wajah dan lampu senter yang mereka arahkan keberbagai arah tidak bisa mengusir rasa penasaran saya, akhirnya saya pun menanyakan kembali “sejatine wonten menopo pak?” (sesungguhnya ada apa pak?)
Salah satu dari mereka yang paling depan mendekati saya dengan suara berlahan menjawab, “wonten macan teng inggil kemah, wau kepanggeh kalian kulo lan rencang-rencang, medhak amargi wontem mambu bakaran ayam saking kemahan” (ada harimau diatas perkemahan, tadi terlihat oleh saya dan teman-teman, harimau turun gunung karena mencium bau ayam yang dibakar teman-teman yang tidak mengikuti acara uji nyali mencari slayer). Saya pun sempat bengong dan syok karena terlintas kejadian beberapa menit yang lalu saya sempat melihat pantulan sepasang mata tak jauh dari tempat saya dan rekan saya bersembunyi, jangan-jangan?

Karena acara pencarian slayer belum selesai, maka saya meminta tolong pada warga tersebut untuk membantu mengamankan lokasi di sepanjang jalur pencarian, dan sekali lagi kami masih diberikan keselamatan sehingga tepak pukul 22.30 acara pencarian slayer bisa selesai tanpa ada kejadian yang tidak diinginkan. Kami semua pun turun ke tempat camp.
Setelah acara ramah tamah dan makan malam dengan sajian lauk ayam bakar plus sambal kecap, mata pun tak bisa diajak begadang lagi, sekitar pukul 00.30 saya menuju tenda dan tidur, malam itu bulan bersinar terang.

Pukul 05.00 saya terbangun, dan mendengar teman-teman yang lain sudah sebagian bangun dan sedang bercengkrama menceritakan pengalamannya masing-masing. Menghirup udara sejuk diluar tidak saya sia-siakan, dengan kaos dan celana pendek saya pun keluar tenda, indahnya hidup ini, sejuk, tenang, nyaman, seandainyai bisa tiap hari bisa bertemu dengan udara sebersih ini.
Sarapan sudah, bersih-bersih diri juga sudah, brefing sejenak untuk pembagian tugas acara inti yaitu tracking ke air terjun Suryadinaga, kami dibagi menjadi 3 (tiga) team.
Team pertama bertugas membuat jalur dan mengamankan jalur menuju air terjun. Tali, bayonet, dan alat penunjang lainnya pun siap dibawa, Saya, Joko, Beni, Ike dan beberapa warga sebagai ujung tombak pengamanan lokasi menuju air terjun, tepat pukul 08.30 kami berangkat, perjalanan yang penuh perjuangan dengan banyaknya semak-semak yang harus kami koyak supaya teman-teman yang dibelakang bisa melalui dengan aman.

Team kedua adalah sebagian besar dari anggota yang menyusul ke air terjun setelah kelompok pertama berangkat, kira-kira pukul 09.00 mereka diberangkatkan.
Team ketiga adalah teman-teman yang tidak ikut ke air terjun, mereka bertugas mengawasi tenda dan memasak untuk teman-teman yang kembali dari air terjun.
Kembali ke team pertama, kami terus mendaki menyibak hutan pinus yang kami perkirakan berada diketinggian 1000 mdpl, nafas terasa memburu ketika tanjakan demi tanjakan kami lalui, 30 menit kami libas hutan pinus dengan nafas memburu dan perjalanan tracking sebenarnya baru dimulai, didepan kami terbentang pemandangan punggung pegunungan dengan kanan kiri jurang sedalam ratusan meter, jangan sampai kami terpeleset atau lengah dalam perjalanan ini, tanjakan demi tanjakan kami lalui. Ditengah perjalanan saya melihat patok beton bercat hitam putih, dan menurut warga yang bersama kami, itu adalah batas wilayah Ajibarang dengan Bumiayu, wooww.. perjalanan saya sudah melewati perbatasan kata saya dalam hati.

Kami masih terus menguak belantara semak dipunggung bukit ini, ranting-ranting serta daun-daun berduri tajam mencoba menggores langkah kaki kami, pacet-pacet bertebaran disepanjang jalur yang jarang dilewati manusia ini. Tiba tiba salah seorang warga yang posisinya paling depan menghentikan langkah, mengambil sebungkus rokok dan beberapa uberampe disakunya, saya sempat berpikir untuk istirahat karena perkiraan saya, orang tersebut ingin menghisap sebatang atau dua batang rokok, ternyata pikiran saya itu salah, orang tersebut menaruhnya diatas batu, tepat disebelah kanan jalan yang akan kami lalui, saya kembali bertanya “kok ses’e ditilar teng watu mriku pak, eman-eman tesih setunggal bungkus” (kok rokoknya ditinggal di batu besar itu pak, sayang lho masih utuh satu bungkus), yang ditanyapun menjawab “inggih mas, kangge sing baurekso” (iya mas buat yang punya tempat ini), saya pun hanya bisa mengangguk mencoba memberi kebenaran.

Masih terkagum-kagum dengan trek dan keindahan panorama punggung bukit ini, kembali saya dikejutkan dengan kata-kata salah satu warga yang ikut bersama team ini, “niki wonten jejak macan, kadose saweng nandai daerahe” (ini ada jejak harimau, kelihatanya untuk menandai daerahnya) sambil menunjul tanah dengan guratan-guratan bekas korekan binatang. Rasa penasaran saya kembali keluar, “ngertose saking pundi menawi niki jejak macan?” (tahu dari mana kalau ini jejak harimau?), warga tersebut pun menjelaskan dengan detai setiap guratan-guratan ditanah yang terlihat di tepian jalan itu. Kembali saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan warga tersebut.
Diketinggian ± 1800 mdpl kami tiba dipertigaan, menurut warga, jika kami berjalan terus kami akan tiba di Kaligua ± 1,5 jam dari pertigaan ini, berhubung tujuan kami adalah ke air terjun maka kami langsung ambil jalur kanan dan menuruni lereng bukit yang cukup terjal dan licin, dari kejauhan kami mendengar deru air yang semakin lama semakin keras bunyinya. Setelah turun ± 500 meter dari petigaan tadi, kami tiba di sungai glodogan, sungai dimana air terjun yang kami tuju berasal, saya pun melirik jam tangan saya, pukul 11.10 tertulis disana.

Saya langsung menceburkan diri untuk membasuh kaki sambil melihat apakah ada binatang pacet menempel dikaki saya, ternyata kaki saya bersih dari binatang yang membuat jijik sebagian orang itu. Karena team kedua sudah terdengar suaranya dari atas sana, maka kami bergegas menuju celah dimana suara air terjun itu berasal untuk memasang tali pengaman.
Deru air dan pekatnya percikan air yang menghantam dari ketinggian 70 meter itu menimbulkan kabut yang cukup unik, suara saya pun tak terdengar sempurna, saya harus berteriak untuk bisa berkomunikasi dengan teman-teman yang berada disebelah saya. Oh indahnya.
Sambil mengagumi karunia yang ada didepan mata, kami berpacu dengan derasnya arus yang dihasilkan dari air terjun ini, mas Joko mencoba menjajaki kedalaman air tapi terhempas oleh kuatnya arus, untunglah ada tali yang membuatnya kembali keposisi aman. Setelah tali terpasang, kami melihat team kedua sudah sampai disungai glodogan ini dan mereka segera bergabung dengan kami.
Satu persatu mereka meniti tali menuju celah tebing dimana air terjun itu bersembunyi, pakaian yang mereka pakaipun dipaksa basah oleh derasnya arus, akhirnya semua bisa menikmati air terjun si pemalu ini.

Rasa lelah setelah perjalanan menuju air terjun ini seolah sirna, terlihat digurat keceriaan diwajah mereka, tapi tunggu, ada pelangi disana. Hemm.. Paradiso.
Pukul 12.00 kami memutuskan untuk kembali ke camp, belum puas rasanya saya bermain di air terjun ini, tapi karena terbatasnya waktu dan rasa dingin yang menyerang membuat saya harus beranjak dari sini. Satu persatu semua peserta kembali meniti tali, melewati lorong tebing dengan hati-hati, ada sedikit rasa tak rela untuk menjauh dari sini, dalam hati hanya bisa berkata, suatu saat jika tuhan mengijinkan saya pasti kesini lagi.

Pukul 14.30 kami semua tiba di camp, rasa lelah setelah menempuh perjalanan cukup ekstrim dan kepuasan menikmati keindahan air terjun Suryadinaga membaur menjadi satu, kami pun beristirahat sejenak sambil minum dan makan pisang goreng yang dibuat oleh team ketiga, membereskan peralatan dan menggulung tenda adalah pekerjaan selanjutnya.
15.00 kami bersiap turun, tapi hujan deras menghambat langkah kami untuk segera sampai di desa Glempang, jalan licin berbatu membuat kami lebih hati-hati dalam melangkah, tak jarang dari kami harus merasakan kerasnya batuan itu saat jatuh terpeleset.
Sesampainya diperkampungan, saya dikejutkan oleh salah seorang anggota baru yang kram perutnya, untunglah kesigapan teman-teman Patrapala dapat membantunya, memang dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kesiapan fisik yang lebih prima dari keadaan biasa, baju basah ketika berada di air terjun hingga perjalanan pulang menuju perkampungan membuat badan kedinginan, staminapun menurun drastis.

Alhamdulillah pukul 17.00 kami semua bisa berkumpul dengan selamat di base desa Glempang, hujan pun telah reda, setelah bersih-bersih diri dan berganti pakaian, kami menyantap hidangan yang disajikan oleh keluarga Pak yoyong dan warga tempat kami menitipkan kendaraan. Pukul 17.30 kami semua berpamitan dan segera menuju kota tercinta dengan kenangan tersendiri dimasing-masing ingatan.

Semoga pihak-pihak terkait dapat membantu meningkatkan taraf kehidupan warga sekitar dengan menjadikan Air Terjun Suryadinaga sebagai tempat pariwisata dan untuk menjaga kelestariannya.
Salam Patrapala.
by Mamas Adhi